Sponsor from Chitika

Sabtu, 19 Februari 2011

KENANGAN TANPA RUPA


Posted: 30 Jan 2011 08:02 PM PST
Bagaikan petir menjelang pagiSaat kudengar kepergianmuSeakan tak percaya kenyataan iniBaru saja kemarin kita bercandaTerlintas kenanganku saat bersamamuSering kau lantunkan lagu yang senduKadang kau menangis tiada yang tahuNamun engkau tersenyum, kau tegarkan hatimuKau simpan sendiri Kini engkau telah pergiTinggalkan aku sendiriMenangis mengenang dirimu Sejuta kenangan denganmu, takkan mungkin terlupakanSeiring doaku untukmuMuara yang cepat tentang dirimuTerhapus oleh amal bagimuKini semua tahu siapa dirimuKetulusan hatimu, pada sesama kita yang tiada berdaya Selamat jalan sahabatkuDoaku selalu untukmuSemoga Tuhan menerimamuAir mata yang berderaiMelepas kepergianmuTuhan ampunkan dosanya (Nike Ardilla) Satu lirik lagu di atas telah mengenangku akan dirimu. Sahabat, kepergianmu dan kehadiranmu dalam hidupku begitu cepat. Aku teringat saat itu, ketika kau membagi warna merah darahmu di bibirku. Sekian lama kau memelukku, seakan tak ingin lepas dariku. Kau menangis, kau pula tertawa. Kau menyuruhku untuk percaya adanya cinta, dari sekian tahun aku mengubur perasaan cintaku menjadi apatisme. Perasaanku bergelayut menjadi petang yang akan menenggelamkan matahari. Andai matahari itu wujudmu, maka kau akan terbit kembali di keesokan hari menemaniku dari amukan perasaan takut. Akan tetapi, kau bukan matahari itu. Kau adalah pelangi. Warnanya menghiasi sanubari alam, namun hadirmu sulit aku temukan. Kau adalah pelangi yang hadir setelah tangis dunia reda, menghibur kesedihan alam. Dan kau menghilang dari pusaran alam yang ingin terus aku lihat keindahannya.Gaun putih yang kau kenakan bukan akhir dari adamu. Batu nisan di atas pembaringanmu juga bukan pertanda kematianmu. Di sampingku masih ada kamu, yang mengerti dan menemani dunia alam bawah sadarku. Aku memimpikan petualangan kita dulu dalam mencari arti hidup, meskipun ada kristal-kristal bening menghiasi matamu. Itu bukan air mata yang kau curahkan. Kau berkedip satu dua kali untuk melihat semburat mimpi yang ingin kita rangkai di pagi harinya. Tersenyumlah untuk rencana pagi kita. Besok kamu akan tetap menemaniku. Aku tidak percaya kau akan pergi secepat embun. Hatimu begitu tegar menghadapi waktu yang sebentar lagi akan menghentikan nafasmu. Tuhan ingin kita bersama, karena kita adalah dua raga yang punya satu dunia.Pada satu malam pekat, kau mengirimku pesan singkat. “Sdah tidur?aku tidak bs memejamkan mata” begitulah isi pesanmu. Aku membalasnya dengan ketakutan. Perasaan takut kehilanganmu tidak muncul malam itu saja, malam-malam sebelumnya aku selalu menanyakan pada bintang tentang keadaanmu yang disana. Kau membalas lagi pesan yang kukirim. “Bacalah emailmu”. Begitu singkat balasan pesanmu. Kantuk dan lelah berubah menjadi kobaran semangat karena penasaran untuk melihat email yang kamu kirim. Aku menyalakan notebook, kubuka web yahoomailku. Ada 54 inbox yang belum terbaca. Nama akunmu terpampang pada urutan nomor 3 dengan subyek Selamat Tinggal. Sepersekian detik pesan yang kamu kirim mulai aku baca. To : mr.po_po18@yahoo.comCC :Subyek : Selamat Tinggal Malam ini aku dirasuki oleh ketakutan sepertimu. Aku takut sekali memejamkan mata. Aku takut setelah mataku terpejam, aku tidak bisa membuka untuk melihat dunia ini lagi. Aku merasakan bahagia. Aku tak pernah sebahagia ini. Ketakutan dan kebahagiaan yang melandaku ini lebih diakibatkan oleh ingatanku pada lantunan lagu yang kau persembahkan di kala gerimis menemani kita. Waktu itu kau tidak tahu aku menangis, karena air mataku sudah tercampur air mata langit. Aku menangis bukan karena apa-apa. Tangisku tidak sama dengan tangis yang pernah terjadi. Aku menangis pada Tuhan. Ia begitu adil menciptakan mahluk sepertimu untuk hadir menemaniku yang sendiri. Waktu dan tenagamu selalu kau luangkan untukku, walaupun kamu punya kepentingan yang mengharuskan menjauhiku. Aku sering memaki dan mengumpatmu dengan kata-kata kasar, namun kau tak menyerah menemaniku. Kadang pula aku menyuruhmu untuk meninggalkanku dan mulai mencintai orang lain yang tidak sakit-sakitan. Tetap saja kau tidak menggubris kata-kataku. Sebenarnya siapa kamu? Kamu yang aku kenal tanpa sengaja di sebuah pusat perenungan, dan tiba-tiba kau memperkenalkan dirimu dengan nama Nocturno Malam. Kau kah malaikat itu? Secepat perkenalan kita, secepat itu pula kau tahu tentang duniaku.Sekarang, aku akan pergi. Malaikat lain iri dan menyuruhku segera meninggalkanmu. Tidak ada pilihan lain yang bisa aku ambil, aku harus pergi meninggalkanmu yang sendiri. Tenang saja sayang, yakinlah harapan itu masih ada. Jika besok kau menemukanku dengan mata terpejam, maka pintaku jangan menangis. Tangis itu tak ada gunanya, malahan akan menimbulkan penyesalan tak berujung. Sayangilah temanku yang pernah aku kenalkan padamu. Aku yakin, dia bisa menggantikan sosokku. Kebencian kontras dengan cinta, di tengah-tengahnya ada ketidakpedulian. Mana kala aku punya waktu dan bisa memilih, maka aku akan memilih dicintai dan mencintai. Tapi aku tidak berbicara perasaan, karena logika dan realita bertahta di atasnya. Jika cinta yang aku pilih, perasaanku yang akan tersiksa. Maka aku memilih membencimu. Aku ingin membencimu karena kamu bagaikan malaikat yang hadir mengenalkanku tentang arti cinta dan memiliki. Kau lebih banyak mengisi waktuku di dunia yang singkat ini dengan warna-warni kehidupan. Satu warna yang kau pilihkan spesial buatku adalah putih. Menurutku putih itu tulus, suci, dan gampang ternoda. Warna putih juga yang akan menemaniku dalam tidurku nanti. Aku berusaha tidak akan menodai warna yang kamu berikan. Aku mohon, kain putih yang akan menutupi jasadku nanti jangan kau nodai dengan air matamu. Berusalah tersenyum seperti aku berusaha menjaga warna putihmu.Aku yang sakit, aku yang tak punya cinta, aku yang sendiri, aku yang punya dunia baru, aku yang introvert, aku yang egois, aku yang membencimu, aku yang sering menggugat Tuhan, dan aku-aku yang lain telah kamu kenal dengan baik. Sekali lagi aku bertanya kamu itu siapa?Sebelum kepergianku menuju dimensi yang berbeda, izinkanlah aku mengirim kata-kata ini. Dan satu kata terakhir yang tak bisa aku ucapkan tetapi bisa kutuliskan adalah AKU MENCINTAIMU MELEBIHI DIRIKU SENDIRI. Terima kasih atas hadirmu. Sampai bertemu di kehidupan selanjutnya. Vivid D. M
Aku terpaku sendiri dalam bidang kerinduan. Sisi-sisi yang lain memintaku untuk menemuimu malam itu juga. Bumi masih diguyur hujan, kilatan petir berkedip tiap satu menit. Mungkin langit juga menangis mengantarkan kepergianmu. Hujan itu bukan pertanda kamu akan pergi malam ini. Isi emailmu hanyalah cerita kosong. Itu praduga terhadap ketakutanku kehilanganmu. Kulepas pikiranku yang disesaki macam-macam pertanyaan. Semakin aku melepasnya, semakin sering bayanganmu mendatangiku. Bayanganmu meminta tolong padaku untuk ditemani saat-saat terakhir jiwamu akan pergi.Panggilanmu telah memberanikan tekadku menerobos malam menuju tempatmu. Rumahmu tampak sepi. Berkali-kali aku membuyikan bell rumah, tapi penghuni rumah belum tampak menyapa tamunya yang tidak sopan. Malam memang sudah larut. Niatku untuk mengetahui keadaanmu telah melupakanku pada batas waktu jam bertamu. Aku tidak mau menyerah. Aku memanjat pagar yang tingginya cuma 1 meter. Aku menggedor pintu rumahmu berulangkali. Belum juga ada yang mau menemuiku. Sampai akhirnya seorang wanita setengah baya membuka pintu.“Cari non Vivid?”“Ya bi?”“Sampean sudah terlambat. Non Vivid kritis. Sudah dari tadi dibawa ke rumah sakit.”Hatiku menggelegar melebihi kerasnya petir yang menyambar pohon. Aku langsung pergi ke rumah sakit. Firasat hujan ini mungkin benar, dia menangis karena satu-satunya orang yang bisa mengertiku akan pergi.Malam pekat sudah berganti pagi buta. Di depan ruang ICU aku dan orang tuanya menunggu detik-detik yang akan dikabarkan dokter pada kami. Orang tuanya Vivid Nampak gelisah, termasuk aku. Lampu merah di atas pintu ruang ICU sudah padam. 5 menit kemudian dokter keluar.“Dok, katakan sesuatu tentang keadaan Vivid pada kami” desakku. Dokter itu diam, ia mencoba menenangkan suasana dulu.“Dia pergi”. Dua kata yang diucapkan dokter membuat riuh suasana dengan air mata. Aku tak mengira secepat itu kebersamaanku dengan Vivid harus berakhir. Saat dibawa keluar, warna putih telah menutupi tubuh dan wajah Vivid. Betul apa pernah yang disampaikannya padaku bahwa warna putih pertanda tulus, suci, dan gampang ternoda. Maka aku berjanji tak akan menodainya dengan air mata ini.Seiring waktu berlalu, aku mendengar lagi lantunan lagu yang membuatku menangisi kepergianmu. Aku tidak setegar kamu, aku tak bisa melepas kenangan itu. Selamat Jalan !!  Oh Tuhan !Setulus hati aku memintaSepenuh hati aku berdoaUntuk adikku yang tercinta Tuhan !Kasihilah dia, ampunilah diaSelamat jalan adikkuSinar kasih Tuhan menyertaimu Setelah aku mendengar beritamuRasanya hatiku tak percayaEngkau telah pergiMeninggalkan dunia dan kita semua Hanya doa yang dapat kupanjatkanUntuk adikku yang tercintaSemoga Tuhan yang maha pengasihMenerima di sisiNya Oh Tuhan !Megapa? Begitu cepat kau panggil diaMasih kuingat dia bernyanyiSyair lagu yang kutulis Oh Tuhan !Mengapa terlalu pagi kau jemput diaMasih teringat lembut suaramuBersenandung lagu cinta (Deddy Dores) Senin, 31 Januari 201109.37

2 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress,Blogger...

sponsor*