Sponsor from Chitika
Tampilkan postingan dengan label puisi cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi cinta. Tampilkan semua postingan
Senin, 14 Februari 2011
Senin, 06 Desember 2010
Benci
Wahai Kau yang ada di sana..
Sebenci Itukah Engkau pada Q..
Hingga ku Sebutkan Nama Q Engkau langsung Tersungut Emosi...
Sebenci itukah Engkau???
Wahai kau Pembohong2...
Tetaplah belajar berbohong, meskipun kau enjadi seorang pendosa....
yang jalang tanpa Rintang, yang teduh tanpa Gaduh..
by:c'cute Zeny
***************
Kamu*
Nich yang Q pikirkan tentang kamyu:
W;Wajahmu Emank Ok..
i:Indah juga Q pandang
L;lantunan Suaramu Selalu Menghanyutkan ku..
D;dan...
...A;Angan mu yang tak pernah padam meskipun..
N;Norak abizzzz
A: Apapun itu..
D;Dikau adalah sahabat Terbaik Q..
Dari SmU sampai Sekarang..
I; Ingatlah... kau kan sllu di hati Q...
Meskipun aku bukan milikmu...
Miz'U...
by:c'cute zeny
backhome>
Lihat Aku
lihat aku disini..
Ku bertahan walau kau sll menyakiti..
Hingga air mataku tak dapat menetes krn habis terurai...
Mungkin karena aq berharap kau dpt mngrti cintaku...
Meski kau selalu sakiti aq..
...Cinta ini akan selalu memaafkan..
Dan akan selalu ku sayangi engkau..
Mengertilah bhwa cintaku tak kan pernah mati..
by:septiana indry
**********************
dewi Fortuna*
sang dewi fortuna pun tertawa,,terbahak2 ketika ku sampai,,
di ujung jalan kebahagian,,
setelah ku teguk arak cinta,,
yg membuatku mabuk,,
membuat yg terlihat sll indah,,
sll merindu tak terthn,,
walau dibalik itu kupernah,,
terhujam,,terlunta2,,kelaparan,,
oleh rindu yg sll terhampr,,
dan tak ingin pulang,,bila rasa itu datang,,,*roman
backhome>
Minggu, 05 Desember 2010
Sayap Patah-1
Sayap Patah-1*
Semoga sayap patahku,
Cukup menghangatkan pangeran hati,,
Yg melambungkan bahagiaku,,
Meneduhkan disaat diri telah merapuh,,
Kini kumengerti arti penantian,,
...Memahami makna gelombang sebelum daratan,,
Saat ksatria kejora memanah mendung di angkasa,,
Derai tawaku menjadi bintang di langit terang,,
Binar mataku cahaya dijiwanya,,
by:melan
jawab:kan kusambung pth sayap itu,
dgn ramuan canda dn tw,,
yg sll kau sk,,,
agr ttp seprti ku melihatmu,,
terbang bak merpati pth,,,
...yg sll bersahaja,,,
pd alam dunia mayamu,,!
*roman
backhome>
Sabtu, 04 Desember 2010
Kasih Sepanjang Jalan
Di stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan.
Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.
Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, “Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kakak”. Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesali
Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.
Sudah hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.
Masih tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.
Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak tuntutan.
Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga mengalihkan perasaanku. Ketika anak-anak beranjak remaja, aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu.
Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta Narita Expres yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatanku.
Ibu..ya betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar. Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku pikir ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. “Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama ini” bisikku perlahan.
Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua.
Aku sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padaku atau papanya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja. Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah.
Riko juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi di rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah. Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya. Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga.
Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puteri ku adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin mencium tangan ibu….
Di luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu’ tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur’an adalah pemandangan biasa buatku. Ah..teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.
Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku. Syukurlah, Window-seat, no smoking area, membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.
Yogya belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu.
Rumah berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu, tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang berubah, ibu…
Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, “Ibu…Rini datang, bu..”, gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang aku rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. “Maafkan Rini, Bu..” ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini.
by:Bunga Citra.(2Lisan.com)
backhome>
backhome>
Label:
blog puisi,
cerpen romantis,
puisi cinta
Jumat, 03 Desember 2010
Serpihan Hati
di matamu
Aku tak bermakna...
Tak mempunyai arti apa2...
Di atas perih ini
Aku bertahan sndiri...
Selalu sendiri.....
Dan serpihan ht ini akan kupeluk erat..
Tak kan ku biarkan terce2r sedikitpun...
Krn di antara serpihan2 ini tertulis namamu...
Meski ini sudah mnjdi serpihan yg tak berarti bwtmu..
Slamanyaa akan kusimpan..
Sdikit dmi sdkit..cepat atau lambat..namamu pasti akan kembali tertulis utuh dlm htku..meski selamanya kau tak tau itu...
by:septiana Indry
READ MORE - Serpihan Hati
Aku tak bermakna...
Tak mempunyai arti apa2...
Di atas perih ini
Aku bertahan sndiri...
Selalu sendiri.....
Dan serpihan ht ini akan kupeluk erat..
Tak kan ku biarkan terce2r sedikitpun...
Krn di antara serpihan2 ini tertulis namamu...
Meski ini sudah mnjdi serpihan yg tak berarti bwtmu..
Slamanyaa akan kusimpan..
Sdikit dmi sdkit..cepat atau lambat..namamu pasti akan kembali tertulis utuh dlm htku..meski selamanya kau tak tau itu...
by:septiana Indry
spt sang fajar yg menantikn mentari menyapanya yg msh suka brsembunyi di ufuk timur..
di iringi suara ayam yg berkokok berniat membangunkan qt dan mengajak qt utk menyapa mentari di iringi ribuan kicauan brung aq buka jendela dan aq hirup udara sejuk ini..
ternyata rasa ini masih ada..
mngkn ini pertanda bhwa kau akn sll berada dlm ...
hati ini sampai ku temui fajar yg sejuk selnjutnya...
hingga tak akan ada lg fajar yg menemani qt..
by:septiana indry
backhome>Sabtu, 27 November 2010
keraguan itu hy salah
kadang hati bisa berkata tidak,,,
kdng jg berkata ingin,,,
melihat ,,,
mendengar,,
...bahkan menyentuhnya,,
bl rasa itu dtng menjelma,,
bagaikn gelaombang hw panas,,
yg mbuat hati gerah,,
mbakar jagat hati yg tersentuhx,,
melelehh,,,,
dan bangkit ketika musim semi itu,,
dtng kembali,,,
berbunga dan mekarlah melati pth ku,,,*roman
memory indah-1
yg terindah,,,
tak munkin terlupakn,,,
itu adlh kenangan yg suci,,
...hy karna slh baca,,
slh sangka,,
yg mbuat semua itu,,
nanti nya tak terbaca,,
dlm memory kisah kita,,
tak pernah berubah,,
wlw musim sll berubah,,
krn hati ini tak kenal musim pancaroba,,
sampai saatx tiba,,*roman
***********************
Hanya satu*
Karna bulan hy satu,,
dan sayangku pun hy satu,,
karna kau dibumi,,
mk apun ada dibumi,,
...tuk bs sll melihatmu disaat duka,,
dan bahagiamu,,
kan sll kau disini,,,
tuk mengisi hr2 indah bersamamu,,
dan kunyakin kau mampu,,
karna kau tlh berjanji untukku,,
wahai purnama yg selalu,,
mengisi gugus hati,,
dilangit biru hatiku,,*roman
backhome>
menanti-1
bisikkanlah kt cinta itu,,
disela2 denting piano klasikmu,,
biar nurani ni tau,ttg hati mu pdku,,
dn kn knyyikn blda cinta trindah,
yg kn mmkik di udara pns dicafe glp,,
...disini,,,yg sll stia mdgrkn lgu cinta,,
yg kau nyanyikn,,dr suara merdumu,,
yg mdayu mmantul didinding rongga ht yg mdgrx,,,
ttp tk brubah,,dkelap kelip lmpu,,
sll bgtO stiap k ddk dsna menanti wktu2 heningku,,
yg tk tbls,,*roman
kupu-kupu ceria
cantiqx dan ceriax kupu2 itu,,
setiap hr terbang kesana kemari,,
mcari madu dan bermain bsama2,,
ditaman2 dibumi ini,,
mnikmati kesenangan hidup yg diberikn,
tak pernah qu liat,,bertengkar,,
atw menginginkn yg lebih dr yg tlah diberikn kpdx,
stlah gembira dan mrs cukup,,dypun plng
ke tmpt terbaikx,,,,*roman
diam bukan benci
itu diam,,
bukan marah,,
atw benci,,
aku hy sedang mencari,,
dan mengembalikan rsku kembali,,
karna sikap manismu membuatku,,
kehilangan udara yg menyerangku,,
dipojok dinding dingin ruangku,,
kuslh mkx ku diam sejenak,,
tp kdng kuterjun kedlm lumpur,,
tuk melihat intan itu bersinar kembali,,
yg kdng mbuat orang yg memandangku,,
memalingkn muka,,
kau hy tdk tau,,
karna mmg sulit untuk tau itu,,
forgive me,,*roman
================================== ======== =========
Damai Hatinya*
,,akhirx dpt jg aq mendamaikn hatix,,
back home>
READ MORE - diam bukan benci
bukan marah,,
atw benci,,
aku hy sedang mencari,,
dan mengembalikan rsku kembali,,
karna sikap manismu membuatku,,
kehilangan udara yg menyerangku,,
dipojok dinding dingin ruangku,,
kuslh mkx ku diam sejenak,,
tp kdng kuterjun kedlm lumpur,,
tuk melihat intan itu bersinar kembali,,
yg kdng mbuat orang yg memandangku,,
memalingkn muka,,
kau hy tdk tau,,
karna mmg sulit untuk tau itu,,
forgive me,,*roman
================================== ======== =========
Damai Hatinya*
,,akhirx dpt jg aq mendamaikn hatix,,
setlh sekian lm aq terpojok diam,,
membisu,,sebisu angin yg lewat diwjhku,,
tak ingin mlupkan,,
dan tak ingin dilpkn,,
wlw rs jgn jd satu,,
karna kngan indah itu,,
tak sll jd satu,,
itulh ksh syng tulus,,
setulus mentari yg menyinari dan menyapa sang bumi,,
semoga menjadi yg indah dan selalu cerah,,
karna itu bukan untuk disalahkan nantinya,,*ROMAN
back home>
Langganan:
Postingan (Atom)

