Bisnis Dahsyat tanpa modal

Sponsor from Chitika

Tampilkan postingan dengan label cerpen romantis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen romantis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011

another side of love(cerpen)

Posted: 07 Mar 2011 04:49 AM PST
"hujan"  aku mengada keatas, mendapati titik-titik air bening bak kristal jatuh membasahi wajahku dengan menggebu-gebu. aku terdiam di tempatku berdiri, merentangkan tanganku dan membiarkan hujan menyapu bebanku, untuk kesekian kalinya ku merasa kepahitan mendapati laki-laki yang menjadi hidupku berbalik arah pada orang yang ku sayang "kakak perempuanku" tanpa belas kasihan mereka bermain di belakangku, lucu sekali. aku benar-benar wanita bodoh yang tak berotak dan di mabuk bualan konyol pria laknat itu. aku memejamkan mataku berharap malaikat maut sudi menghampiriku dan mau menerimaku menjadi bawahannya untuk terbang ke langit meninggalkan dunia kelam ini."tiiiiiiiiinnnnn..!!!"   aku merasakan cahaya menerpa tubuhku di iringi suara bising dari mesin yang dingin, inilah saatnya, akhir nya malaikat maut berpihak padaku, beberapa detik yang mencekam begitu mendebarkan buatku, bagaimana rasanya mati? apakah sakit? pertanyaan itu mengiang di kepalaku."woi gadis edan.!! u mau mati ap?! bosan hidup, hah?!"   perlahan aku membuka mataku. menormalkan kembali penglihatanku dan menatap lurus ke depan, kehadapan seorang yang seharusnya menjadi malaikat mautku seseorang di atas motor ninja silver berhelm putih serasi dengan sweater putihnya yang basah membalut tubuh tegapnya, sepan gunung yang di kenakannya terlihat begitu pas. aku memandangnya lekat-lekat, dia menghampiriku dengan wajah yang tertutup helm, aku tahu dia sangat melihat kebodohanku, tapi ku tidak perduli. Mataku berkunang-kunang, semuanya terlihat mulai mengabur, suara orang tak terdengar lagi, se,ua jadi begitu sunyi.."BRUAKK"   Aku tersungkur ke jalan yang penuh dengan genangan air mata langit yang keruh.****   Hangat dan nyaman itulah yang ku rasa, apa aku sudah berada di alam sana? Semua gelap, aku berjalan dalam kegelapan tanpa arah, aku merasa sebuah kedamaian merasuk ke raga ini. Lama kelamaan aku merasakan sesuatu yang dingin menusuk, menyentuh kulit pipiku dan aku mendengar suara orang asing berbisik lembut di lelingaku.."kembalilah, aku disini untuk menemanimu"   Cahaya putih datang dan menggeretku kesebuah tempat yang begitu menyilaukan, aku merasa takut. Ku pejamkan mataku dan perlahan ku buka kembali memastikan cahaya itu menghilang. setelah benar-benar terbuka aku mendapati diriku berada disebuah ruangan yang tidak ku kenali. Tidak lagi di ruang gelap maupun di tempat bercahayayang menyilaukan. Aku di sebuah ruangan kecil dengan penghangat ruangan, dan dinding yang bercat putih polos tanpa hiasan sedikitpun. Aku mencoba bergerak dan duduk, ku layangkan pandanganku ke setiap sudut ruangan hingga mataku terpaku pada seseorang berkulit putih berambut hitam dengan emo style terlelap di sampingku dan terus menggenggam tanganku. Orang yang terasa begitu asing tapi membuat hati ini bergetar dan berdebar sangat kencang. Siapa? Siapa orang ini?! dan dimana aku sekarang?!*****   Aku tersentak ketika orang ini bergerak, membuka matanya yang coklat terang dan menguap keras. Orang ini menatapku dengan pandangan yang redup namun menusuk."hoaah... sudah bangun? sudah merasa lebih baikkan? oh ya.! u mw bunuh diri malam itu.!! tindakan yang bodoh.!!"   dia menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal dan memarahiku dengan suaranya yang cempreng tapi terdengar berat karena efek dari tidur. Dia duduk jongko di bwah ranjang dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum lembut tentunya setelah dia puas memarahiku.."Faira, u?"   apa?! orang ini wanita?! tidak..!! dia tidak terlihat seperti wanita, tubuhnya yang kekar, bahunya yang lebar dan tegap, dadanya yang rata, rambut emonya yang berantakkan, suara cemprengnya yang terdengar berat dan wajah tampannya yang dingin tidak menunjukkan bahwa dia perempua.. tidak mungkin.!!"hei.! u bisu ya?!"   ku terbangun dari lamunanku dan langsung menjabat tangannya."Windy""ok, u sudah baikkan? kalau udah q akan mengantar u pilang"   bicara dengan santainya lalu berdiri seenaknya. Pulang?! aku tidak ingin ke neraka itu saat ini.!"Maaf.!! Izinkan q tinggal disini,.! Orang tuaku sudah tiada, q tidak punya lagi tempat untuk pulang"   aku menunduk dan terpaksa mengarang semua cerita bohong ini, aku merasa bersalah tapi tidak ada jalan lain selain merangkai kebohongan ini....*****   Sudah 2 bulan ku tinggal disini, aku layaknya seorang ibu rumah tangga yang mengurusi semua keperluan Faira, hahaha.. Faira ternyata lucu dan kadang bertingkah aneh. aku masih tidak percaya jika Faira perempuan.. ^^ Tiap hari aku bersamanya, menatap wajahnya dan berbicara dengannya, akhir-akhir ini. aku mersakan ada sesuatu yang aneh di dalam diriku. aku selalu berdebar tak karuan ketika Faira ada di sampingku atau saat kami berpapasan, bahkan aku merasa tubuhku memanas ketika Faira menyentuhku. Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi perasaan ini begitu menggangguku, membuatku jadi takut to bertemu Faira. aku tidak mau di kira aneh karena perasaan yang menggila ini. Aku tidak berani menatap mata coklat Faira, alhasil aku selalu menghindarinya dan membuat semuanya terasa begitu canggung."kenapa u menghindariku beberapa hari ini? apa ada hal yang salah?"   aku terkejut dan refleks menoleh ke belakang, tepatnya ke arah sumber suara. Wajahku merah padam ketika melihat wajah Faira yang begitu dekat dengan wajahku. alu terdiam sejenak dan lari sekencang-kencangnya ke kamarku lalu mengunci pintu kamarku tanpa alasan yang jelas. Ku tau aku semakin terlihat gila, aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi... tapi...   aku terduduk lemas, bagai orang yang bodoh. aku menatap keluar jendela. Sejak datang kesini aku sama sekali tidak pernah memikirkan tengtnag perselingkuhan itu lagi bahkan tidak sekalipun terpikirkan cara untuk bunuh diri seperti yang selama ini aku lakukan. Semua sirna karena...   Karena aku sadar, aku merasakan sebuah kehangatan disini, aku tidak ingin mengakuinya tapi tidak dapat memungkirinya. Aku hanya dapat menerima kenyataan pahit ini, kenyataan bahwa."Aku mencintai FAIRA"****   Lamunanku terpecah karena getaran hpku. ku membuka dan membaca pesan singkat yang masuk ke hpku."datang n tmui q d pantai pnggiran kota jam 8 mlam nnti, q akn mnunggu hingga u dtang.. Faira"   Sms dari Faira.!! Bagaimana ini?! Apa aku harus datang?! tapi jika tidak datang dia akan terus menugguku. Tuhan... Aku harus melakukan apa?   Tepat jam 8 malam, kakiku akhirnya melangkah keluar dengan drees putih tipis pemberian FAira dan rambut yang tergerai ku datang menemui FAira. Suasana di pantai malam itu amat sepi, ku melayangkan pandangan ke seluruh penjuruh untuk menemukan Faira. aku melihat sebuah cahaya lilin redup tak jauh dari tempatku, refleks ku jalan mendekat."FAira? ada apa? kenapa meminta q untuk datang ke pantai malam-malam gini?"   aku memberanikan diri untuk bicara namun tak ada sedikitpun keberanian untuk menatap wajahnya, Faira menarik tanganku sehingga membuatku terduduk. dia memandang ke pantai yang damai itu dengan pandangan yang amat menyedihkan."q benci pantai"  Faira bicara dengan suara lemah dan tetap fokus dengan apa yang dia lihat."kenapa?""karena aq sangat menyukainya"   aku terdiam dan sedikit bingung apa maksud dari perkataanya."dan q membenci u"   aku terkejut setengah mati, aku ingin menangis, tubuhku hendak berdiri namun kepala Faira lebih dulu mendarat ke bahuku."maaf a..""ssttt.. u tidak usah bicara, u hanya bolej mendengarkan"   Dia menggenggam tangan ku erat, dengan tangan yang dingin dan basah. aku tetap tidak memandang Faira, karena ku takut aku akan menangis nantinya."aku membenci u karena ku sangat mencintai u dan ingin memiliki u walau ku tau rasa ini terlarang tapi tetap saj ku mencintai u""DGUAR!"  aku merasa petir menyambar tubuhku dengan keras. j.. jadi FAira juga punya perasaan yang sama denganku? d.. dia juga mencintaiku walau kami sama-sama perempuan?!"F.. Fai..."  Aku merasakan tangan hangatnya memeluk tubuhku erat seperti orang yang takut kehilangan."q tau u punya rasa yang sama, tapi ku tidak mungkin bisa bersama. bukan karena pandangan orang lain menanggapi hubungan ini, aq tidak perduli dengan pandangan masyarakat, tapi... Semuanya telah di takdirkan. Takdir u dan q, kita tidak di ikat untuk bersama"   Aku merasakn nafas Faira yang mulai tersengal dan aku tau dia begitu berdebar-debar karena detang jantungnya begitu terasa.."haa... haa... w.. windy.. I DO LOVE YOU.."  Faira memegang wajahku dengan tangannya yang benar-benar dingin dan menatapku dalam."Maafkan q Windy.."   Dia tersenyum manis kemudian mencium ujung bibirku lembut, selama beberapa detik dan langsung jatuh ke dalam pelukanku. Debar jantung Faira yang tadinya kuat lambat laun terdengar melemah, ku panik. sangat panik dan memeluk tubuh Faira erat. aku sadar dengan semuanya ketika ku tau dengan jelas bahwa jantungnya tak lagi berdetak, nafasnya tak lagi berhembus.   Di tengah desiran ombak yang tenang ini, aku duduk memeluk orangnya cintai dan melewati malam panjang yang paling menyenangkan dalam hidupku sekaligus paling menyedihkan, bersama dengan dia yang tak lagi bernyawa..-THE END- 
 
READ MORE - another side of love(cerpen)

Sabtu, 19 Februari 2011

Hubungan Tanpa Status(Cerpen)

Hubungan Tanpa Status
by:kikyou inuyascha lova
20 Februari 2011


      Aira seorang siswi SMA di Jakarta. Dia pindahan dari Semarang sehingga logat jawanya masih kelihatan. Dia harus pindah sekolah karena orang tuanya pindah tugas. Dimana pun Aira berada,dia akan selalu menjaga sikapnya.
Hari ini adalah hari pertama Aira masuk sekolah. Dia berangkat sekolah dan sesampainya di sana Aira menuju ruang guru. Dia menunggu bapak/ibu guru memperkenalkan dirinya dengan teman-teman barunya.
“selamat pagi anak-anak.....,” suara Bu Amanah menyapa.
“selamat pagi Bu.....”
“anak-anak kita kedatangan murid baru pindahan dari Semarang. Aira,silakan masuk. Perkenalkan nama kamu sama teman–teman kamu,” pinta Bu Amanah.
“iya Bu....”
“selamat pagi teman-teman...,” sapa Aira.
“selamat pagi.....”jawabnya serempak.
“nama saya Aira Larasati,kalian boleh panggil saya Aira. Saya pindahan dari Semarang.”
“Aira,sekarang kamu boleh duduk dibangku nomer dua sama Yuli,” perintah Bu Amanah.
Aira berjalan menuju mejanya Yuli. Dia langsung duduk disamping Yuli sambil menjulurkan tangannya sebagai perkenalan.
“hai,aku Aira”
“kalo aku Yuli”
Mereka saling berkenalan satu sama lain. Sambil mendengarkan Bu Amanah yang sedang menerangkan, Aira dan Yuli ngobrol. Bu Amanah langsung menegur mereka.
“Aira, Yuli, ngobrolnya dilanjutin nanti aja kalo istirahat”
“Iya Bu......”
Tidak lama kemudian terdengar bel istirahat berbunyi. Bu Amanah meninggalkan kelas dan mempersilakan murid-murid untuk istirahat. Meski waktu istarahat cuma sebentar,semua murid-murid begitu menikmati waktu istirahat. Aira dan Yuli memanfaatkan waktu istirahat untuk mengajak Aira keliling sekolah.
      Setelah mengelilingi sekolah barunya,Aira dan Yuli bermaksud untuk kembali ke kelasnya. Tapi sewaktu mereka sedang berjalan,ada seorang cowok yang menabraknya.
“hai,gimana sie kamu.....,” ujar Yuli
“sorry aku ga sengaja.” balas si cowok tadi
“yuk Aira kita kembali ke kelas.”
Aira dan Yuli perlahan berjalan menuju kelasnya. Lalu cowok tadi berteriak,” hai tunggu.” Aira dan Yuli lalu menengok ke cowok tadi. Cowok tersebut menghampiri mereka.
“hai,aku boleh kenalan ga sama kalian.” ungkapnya.
“boleh kok. Kita kan masih satu sekolah,jadi harus saling mengenal. Namaku Yuli dan ini Aira,” mereka sambil berjabat tangan.
“namaku Andhika. Kalian dari kelas mana kok aku baru bertemu cewek secantik kalian?”
“thanks atas sanjungannya. Kita dari kelas X.”
“kalo aku dari kelas XI.”
“berarti kta harus panggil kamu kakak dong? Kan kamu kakak kelas kita.”
“kalian panggil aku kak Dhika aja.”
      Awal perkenalan mereka menjadi indah karena ternyata sejak saat itu mulai timbul perasaan-perasaan aneh yang sulit dimengerti dan perasaan itu adalah cinta,cinta pada pandangan pertama. Dua insan yang saling mencintai itu adalah Andhika dan Aira......BersambunG

Back Home >

READ MORE - Hubungan Tanpa Status(Cerpen)

KENANGAN TANPA RUPA


Posted: 30 Jan 2011 08:02 PM PST
Bagaikan petir menjelang pagiSaat kudengar kepergianmuSeakan tak percaya kenyataan iniBaru saja kemarin kita bercandaTerlintas kenanganku saat bersamamuSering kau lantunkan lagu yang senduKadang kau menangis tiada yang tahuNamun engkau tersenyum, kau tegarkan hatimuKau simpan sendiri Kini engkau telah pergiTinggalkan aku sendiriMenangis mengenang dirimu Sejuta kenangan denganmu, takkan mungkin terlupakanSeiring doaku untukmuMuara yang cepat tentang dirimuTerhapus oleh amal bagimuKini semua tahu siapa dirimuKetulusan hatimu, pada sesama kita yang tiada berdaya Selamat jalan sahabatkuDoaku selalu untukmuSemoga Tuhan menerimamuAir mata yang berderaiMelepas kepergianmuTuhan ampunkan dosanya (Nike Ardilla) Satu lirik lagu di atas telah mengenangku akan dirimu. Sahabat, kepergianmu dan kehadiranmu dalam hidupku begitu cepat. Aku teringat saat itu, ketika kau membagi warna merah darahmu di bibirku. Sekian lama kau memelukku, seakan tak ingin lepas dariku. Kau menangis, kau pula tertawa. Kau menyuruhku untuk percaya adanya cinta, dari sekian tahun aku mengubur perasaan cintaku menjadi apatisme. Perasaanku bergelayut menjadi petang yang akan menenggelamkan matahari. Andai matahari itu wujudmu, maka kau akan terbit kembali di keesokan hari menemaniku dari amukan perasaan takut. Akan tetapi, kau bukan matahari itu. Kau adalah pelangi. Warnanya menghiasi sanubari alam, namun hadirmu sulit aku temukan. Kau adalah pelangi yang hadir setelah tangis dunia reda, menghibur kesedihan alam. Dan kau menghilang dari pusaran alam yang ingin terus aku lihat keindahannya.Gaun putih yang kau kenakan bukan akhir dari adamu. Batu nisan di atas pembaringanmu juga bukan pertanda kematianmu. Di sampingku masih ada kamu, yang mengerti dan menemani dunia alam bawah sadarku. Aku memimpikan petualangan kita dulu dalam mencari arti hidup, meskipun ada kristal-kristal bening menghiasi matamu. Itu bukan air mata yang kau curahkan. Kau berkedip satu dua kali untuk melihat semburat mimpi yang ingin kita rangkai di pagi harinya. Tersenyumlah untuk rencana pagi kita. Besok kamu akan tetap menemaniku. Aku tidak percaya kau akan pergi secepat embun. Hatimu begitu tegar menghadapi waktu yang sebentar lagi akan menghentikan nafasmu. Tuhan ingin kita bersama, karena kita adalah dua raga yang punya satu dunia.Pada satu malam pekat, kau mengirimku pesan singkat. “Sdah tidur?aku tidak bs memejamkan mata” begitulah isi pesanmu. Aku membalasnya dengan ketakutan. Perasaan takut kehilanganmu tidak muncul malam itu saja, malam-malam sebelumnya aku selalu menanyakan pada bintang tentang keadaanmu yang disana. Kau membalas lagi pesan yang kukirim. “Bacalah emailmu”. Begitu singkat balasan pesanmu. Kantuk dan lelah berubah menjadi kobaran semangat karena penasaran untuk melihat email yang kamu kirim. Aku menyalakan notebook, kubuka web yahoomailku. Ada 54 inbox yang belum terbaca. Nama akunmu terpampang pada urutan nomor 3 dengan subyek Selamat Tinggal. Sepersekian detik pesan yang kamu kirim mulai aku baca. To : mr.po_po18@yahoo.comCC :Subyek : Selamat Tinggal Malam ini aku dirasuki oleh ketakutan sepertimu. Aku takut sekali memejamkan mata. Aku takut setelah mataku terpejam, aku tidak bisa membuka untuk melihat dunia ini lagi. Aku merasakan bahagia. Aku tak pernah sebahagia ini. Ketakutan dan kebahagiaan yang melandaku ini lebih diakibatkan oleh ingatanku pada lantunan lagu yang kau persembahkan di kala gerimis menemani kita. Waktu itu kau tidak tahu aku menangis, karena air mataku sudah tercampur air mata langit. Aku menangis bukan karena apa-apa. Tangisku tidak sama dengan tangis yang pernah terjadi. Aku menangis pada Tuhan. Ia begitu adil menciptakan mahluk sepertimu untuk hadir menemaniku yang sendiri. Waktu dan tenagamu selalu kau luangkan untukku, walaupun kamu punya kepentingan yang mengharuskan menjauhiku. Aku sering memaki dan mengumpatmu dengan kata-kata kasar, namun kau tak menyerah menemaniku. Kadang pula aku menyuruhmu untuk meninggalkanku dan mulai mencintai orang lain yang tidak sakit-sakitan. Tetap saja kau tidak menggubris kata-kataku. Sebenarnya siapa kamu? Kamu yang aku kenal tanpa sengaja di sebuah pusat perenungan, dan tiba-tiba kau memperkenalkan dirimu dengan nama Nocturno Malam. Kau kah malaikat itu? Secepat perkenalan kita, secepat itu pula kau tahu tentang duniaku.Sekarang, aku akan pergi. Malaikat lain iri dan menyuruhku segera meninggalkanmu. Tidak ada pilihan lain yang bisa aku ambil, aku harus pergi meninggalkanmu yang sendiri. Tenang saja sayang, yakinlah harapan itu masih ada. Jika besok kau menemukanku dengan mata terpejam, maka pintaku jangan menangis. Tangis itu tak ada gunanya, malahan akan menimbulkan penyesalan tak berujung. Sayangilah temanku yang pernah aku kenalkan padamu. Aku yakin, dia bisa menggantikan sosokku. Kebencian kontras dengan cinta, di tengah-tengahnya ada ketidakpedulian. Mana kala aku punya waktu dan bisa memilih, maka aku akan memilih dicintai dan mencintai. Tapi aku tidak berbicara perasaan, karena logika dan realita bertahta di atasnya. Jika cinta yang aku pilih, perasaanku yang akan tersiksa. Maka aku memilih membencimu. Aku ingin membencimu karena kamu bagaikan malaikat yang hadir mengenalkanku tentang arti cinta dan memiliki. Kau lebih banyak mengisi waktuku di dunia yang singkat ini dengan warna-warni kehidupan. Satu warna yang kau pilihkan spesial buatku adalah putih. Menurutku putih itu tulus, suci, dan gampang ternoda. Warna putih juga yang akan menemaniku dalam tidurku nanti. Aku berusaha tidak akan menodai warna yang kamu berikan. Aku mohon, kain putih yang akan menutupi jasadku nanti jangan kau nodai dengan air matamu. Berusalah tersenyum seperti aku berusaha menjaga warna putihmu.Aku yang sakit, aku yang tak punya cinta, aku yang sendiri, aku yang punya dunia baru, aku yang introvert, aku yang egois, aku yang membencimu, aku yang sering menggugat Tuhan, dan aku-aku yang lain telah kamu kenal dengan baik. Sekali lagi aku bertanya kamu itu siapa?Sebelum kepergianku menuju dimensi yang berbeda, izinkanlah aku mengirim kata-kata ini. Dan satu kata terakhir yang tak bisa aku ucapkan tetapi bisa kutuliskan adalah AKU MENCINTAIMU MELEBIHI DIRIKU SENDIRI. Terima kasih atas hadirmu. Sampai bertemu di kehidupan selanjutnya. Vivid D. M
Aku terpaku sendiri dalam bidang kerinduan. Sisi-sisi yang lain memintaku untuk menemuimu malam itu juga. Bumi masih diguyur hujan, kilatan petir berkedip tiap satu menit. Mungkin langit juga menangis mengantarkan kepergianmu. Hujan itu bukan pertanda kamu akan pergi malam ini. Isi emailmu hanyalah cerita kosong. Itu praduga terhadap ketakutanku kehilanganmu. Kulepas pikiranku yang disesaki macam-macam pertanyaan. Semakin aku melepasnya, semakin sering bayanganmu mendatangiku. Bayanganmu meminta tolong padaku untuk ditemani saat-saat terakhir jiwamu akan pergi.Panggilanmu telah memberanikan tekadku menerobos malam menuju tempatmu. Rumahmu tampak sepi. Berkali-kali aku membuyikan bell rumah, tapi penghuni rumah belum tampak menyapa tamunya yang tidak sopan. Malam memang sudah larut. Niatku untuk mengetahui keadaanmu telah melupakanku pada batas waktu jam bertamu. Aku tidak mau menyerah. Aku memanjat pagar yang tingginya cuma 1 meter. Aku menggedor pintu rumahmu berulangkali. Belum juga ada yang mau menemuiku. Sampai akhirnya seorang wanita setengah baya membuka pintu.“Cari non Vivid?”“Ya bi?”“Sampean sudah terlambat. Non Vivid kritis. Sudah dari tadi dibawa ke rumah sakit.”Hatiku menggelegar melebihi kerasnya petir yang menyambar pohon. Aku langsung pergi ke rumah sakit. Firasat hujan ini mungkin benar, dia menangis karena satu-satunya orang yang bisa mengertiku akan pergi.Malam pekat sudah berganti pagi buta. Di depan ruang ICU aku dan orang tuanya menunggu detik-detik yang akan dikabarkan dokter pada kami. Orang tuanya Vivid Nampak gelisah, termasuk aku. Lampu merah di atas pintu ruang ICU sudah padam. 5 menit kemudian dokter keluar.“Dok, katakan sesuatu tentang keadaan Vivid pada kami” desakku. Dokter itu diam, ia mencoba menenangkan suasana dulu.“Dia pergi”. Dua kata yang diucapkan dokter membuat riuh suasana dengan air mata. Aku tak mengira secepat itu kebersamaanku dengan Vivid harus berakhir. Saat dibawa keluar, warna putih telah menutupi tubuh dan wajah Vivid. Betul apa pernah yang disampaikannya padaku bahwa warna putih pertanda tulus, suci, dan gampang ternoda. Maka aku berjanji tak akan menodainya dengan air mata ini.Seiring waktu berlalu, aku mendengar lagi lantunan lagu yang membuatku menangisi kepergianmu. Aku tidak setegar kamu, aku tak bisa melepas kenangan itu. Selamat Jalan !!  Oh Tuhan !Setulus hati aku memintaSepenuh hati aku berdoaUntuk adikku yang tercinta Tuhan !Kasihilah dia, ampunilah diaSelamat jalan adikkuSinar kasih Tuhan menyertaimu Setelah aku mendengar beritamuRasanya hatiku tak percayaEngkau telah pergiMeninggalkan dunia dan kita semua Hanya doa yang dapat kupanjatkanUntuk adikku yang tercintaSemoga Tuhan yang maha pengasihMenerima di sisiNya Oh Tuhan !Megapa? Begitu cepat kau panggil diaMasih kuingat dia bernyanyiSyair lagu yang kutulis Oh Tuhan !Mengapa terlalu pagi kau jemput diaMasih teringat lembut suaramuBersenandung lagu cinta (Deddy Dores) Senin, 31 Januari 201109.37
READ MORE - KENANGAN TANPA RUPA

Sabtu, 05 Februari 2011

FACEBOOK MISTERY(Cerpen)

FACEBOOK MISTERY(Cerpen)
Posted: 18 Jan 2011 07:53 AM PST
Entah mengapa aku rasakan seolah-olah malam ini begitu lama,aku mencoba untuk memaksa mata ini terpejam namun belum bisa juga,rasa kantukku belum juga datang kutengok jam di hp ku sudah menunjukkan pukul 00.30,wah sudah lewat tengah malam fikirku.Kayakny begadang lagi malam... ini, aku pun memutuskan untuk online sampai pagi.Migg33 aku buka tidak lupa akupun logn IM Facebook siapa tahu ada teman yang masih online disana, satu persatu aku perhatikan daftar nama-nama dikontakku yang memang mash ada sebagian yang OL, Wah...rupanya temen jauh semua, temen dunia maya,itupun aku kenal dari IM tersebut,sementara teman dekat ku mereka offline semua...Tapi...apa ini...Mendadak aku mengeluarkan keringat dingin, aku tersentak kaget inikan...Untuk memastikan aku mencoba untuk menyelidiki lebh jauh dengan membuka profilnya,tidak salah lagi ini kan teman aku yang baru saja meninggal 3 hari yang lalu...hii...mendadak sekujur tubuh ku merinding semua.Seisi kampus menjadi geger mendengarkan cerita yang aku alami semalam, bermacam-macam asumsi yang mereka lontarkan...bahkan sebagian dari mereka beranggapan arwah Ardi gentayangan dikarenakan kematiannya yang kurang wajar, dilain pihak mereka beranggapan bahwa yg OL semalam bisa saja orang terdekat ardi yang sengaja memakai nick nya dia.Apapun alasanny tetap saja berita kematian Ardi menjadi bahan pembicaraan hangat dikampus ku. Sungguh sangat mengenaskan jasad Ardi ditemukan terapung disungai dengan kondisi terikat dengan luka tusuk dibagian perutny, siapa yang tega melakukan ini semua?...padahal selama ini Ardi yang aku kenal adalah seorang yang baik dan tidak pernah membuat keonaran kepada siapun.''Rudi....!!!''... Aku tersadar dari lamunanku, aku mendengar suara yang tidak asing lagi ditelingaku... Dan ternyata adalah anggi yang datang menghampiriku mulanya aku menawarkan senyuman sebelum akhirnya dia menamparku dgn begitu keras aku rasakan''Plaaaaaaaaaaaaaaaaaaak'' laksana seribu petir menyambar-nyambar di sekujur tubuhku, ada apa?,kenapa wanita ini, aku heran sambil memegang pipiku yang sedikit pedas akibat tamparannya, Mimpi apa aku semalam hingga mendapat kan perlakuan seperti ini, bukan hanya sakitnya yang aku rasakan sekaligus malu harga diriku sebagai seorang laki-laki dikemanakan mendapat perlakuan ini di depan umum,dihadapan teman-teman ku bahkan seniorku dikampus ini. kalau saja bukan perempuan aku balas dengan perlakuan serupa, entahlah apapula yang aku lukiskan untuk menggambarkan kekesalan ini. ''Dasar gak berperasaan kamu Rud...''Perempuan ini menangis setelah menamparku kemudian pergi berlalu meninggalkan ku begitu saja, aku tertegun,sejuta keanehan sekaligus penasaran mulai datang di celah-celah otakku, kenapa?. Ada apa ini?. ''wah kenpa rud?. Kalian bertengkar ya?...ada masalah apa?'' kata salah satu seniorku''masalah percintaan ya???''ledeknya lagi''wah ternyata kamu buaya darat juga rud, baru 4 hari kematian Si Rudi Eh...anggi langsung elo, sambar''.Apa....??? Dalam fikiranku mulai teringat sesuatu, wah pantas aku baru ingat sekarang,Anggi itukan pernah menjalin hubungan bersama Ardi, mungkin dia merasa tersinggung, bodoh nya lagi kenapa cerita semalam aku sebarkan ke teman-teman sekampus...ah...parah...dia kan baru kemarin meninggal bisa dibayangkan betapa sakit dan hancurny perasaan Anggi saat ini'' Hei...kawan...kenapa melamun kalau masih cinta kejar sana minta maaflah padanya''iiikh...lama kelamaan bikin jengkel juga kelakuan nya, kalau begini terus-terusan tidak memandang seniorku atau bukan''Hei...jaga mulut kamu...'' kataku geram sambil mencengkram kerah baju seniorku itu...melihat keadaan ini teman-teman yang lain spontan menengah-nengahi kami''sudah Rud, knp sih apa yang kalian ributkan'' kata teman-temanku mencoba untuk meredam emosiku''hei...man kenapa emosi..nyantai sajalah...''kata seniorku yang menyebalkan tadi. Ingin rasanya aku menampar mulutnya yang lancang itu, namun aku hentikan aku menahan emosi sebisaku aku berniat meninggalkan tempat itu... ah yang terpenting bagaimana caranya agar supaya anggi memaafkanku, mungkin dia kesal padaku,aku harus menemuinya dan meminta maaf.***Hei...Aneh sekali malam ini akurasakan...tiba-tiba saja angin berhembus begitukencangnya...Sesekali kilat menyambar-nyambar, akuhentikan sejenak aktifitasku didepan komputer...aku menyongsong kearah jendela kamar ku yang tiba-tiba saja terbuka dengan sendirinya...tak mau air hujan membasahi tempattidur ku segera aku tutup kembali dan aku kunci rapat-rapat Akupun kembali dengan perasaan tegang mencoba mengutak-atik dan membuka file-file di komputerku...aku lihat jendelafacebook masih terbuka karena memang dari tadi aku masih asyik memainkannya. ''Hah...Apa ini'' Aku tertegun, meliha photo di profil Ardi, siapa yang merubah...terlihat menyeramkan, merinding aku dibuatnya ,ditengah ketegangan yang aku alami sekarang tiba-tib saja handphone ku berdering...''brengsek bikin kaget saja!!!''aku langsung meraih ponsel tersebut... Video Call''Ardi memanggil '' wah...benar-benar gila sebenarnya ini ulah siapa, isengkah???,keluarga Ardi kah yang melakukan nya, tapi untuk apa...???. Amarahku mulai memuncak letupan-letupan kawah berapi mulai aku rasakan, terbesit keinginanku untuk memperingati,peneror sialan ini... Namun apa yang terjadi ketika telfon tersebut aku angkat dalam layar handphone terlihat jelas seraut wajah yang sangat mengerikan menyeringai menatapku dengan sorot mata yang begitu tajam aku semakin menggigil ketakutan ''Tidak mungkin...Tidak mungkin...Tidak mungkin...'' aku histeris berteriak sekuat tenaga mendadak tiba-tiba.."Haaah...aneh dimana ini rasanya aku melihat mamah dan papah disebelahku. ''Ada apa mah, pah?''Tanya ku pada mereka, merekapun menatapku keheranan ''Enak saja ada apa... seharusnya papah yang bertanya, malam- malam begini teriak-teriak, kayak orang gila saja, makanya jangan suka menonton film horror sebelum tidur,ini akibatnya.'' Kata papah sambil mematikan komputer di atas mejaku. '' sudah tidur lagi sana baru jam 01.00,pindah ketempat tidurmu...lain kali kalau mau tidur matikan dulu komputerny,bikin boros saja''Rupanya aku tertidur dimeja belajarku... Duh...kena teguran lagi aku. Ternyata yang aku alami semuanya adalah mimpi...Waaah...bakal seru nih ceritanya...Apa yang akan dikatakan Ardi ya kalau seandainya aku menceritakan mimpi ku padanya...Hahaha...mungkin dia akan memukuliku karena telah memimpikan dia mati... 
 
READ MORE - FACEBOOK MISTERY(Cerpen)

Jumat, 28 Januari 2011

DARKNESS (CerpeN)

DARKNESS


Aku meringkuk di sudut ruangan sempit dan sengap ini, ditemani sepi dan dipinangi gelap. Embun dari pelupuk mata tak henti-hentinya mengalir menelusuri setiap lekuk wajah pias oleh kesedihan luar biasa. Pikiranku kalut, hatiku kosong, perasaanku hampa. Rasa sesak itu tak juga mau berhenti menghujam hatiku, menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan kecil tak berbekas. Merengkuh setiap pori-poriku dalam belenggu mematikan hingga tak kuasa hidup seperti biasa. Mati rasa !
Bayangan itu terus saja berputar, seolah baru terjadi kemarin. Jatuh tepat dibintik mata, membiasakannya menjadi cahaya samar yang menyakitkan. Menutup gendang terlinga, dan memenuhinya dengan irama-irama penyesalan dan keputus asaan. Asaku suda mati, tak lagi bercokol di jasadku, melayang entah kemana, dan tersesat di lubang kegelapan tak bertepi.
Kini asaku duduk di tepian sepercik cahaya, menyaksikan dengan pandangan hampa ke sebuah sudut memori kusut yang sama sekali tak bisa terhapuskan, berputar setiap detik tampa ada tombol pause, terpapar secara gamblang di depan lensa mata. Menyesakkan !
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
                 Aku menarik sudut bibirku hingga membentuk seulas senyum manis ke pantulan diriku yang terpampang di sebuah cermin besar. Perempuan bergaun putih itupun membalas senyumku dengan cara yang sama, memandangku dengan tatapan tak terartikan.
Kusapu pandanganku ke balik punggung gadis bergaun putih itu, menyapa pandangan hangat penuh haru dari wanita paruh baya yang kini merengkuh pundakku dalam diam. Tak perlu ada kata-kata yang terlontar, pandangan itu sudah cukup menjelaskan semuanya bagiku. Kurasakan lekuk pundaku dialiri cairan hangat yang mengalir bak air sungai yang bening. Ya...wanita itu menangis. Dan aku berani bersumpah, itu adalah tangisan bahagia.
aku berdiri, dan berbalik untuk menghadap wanita itu. Kuseka air matanya dan sekali lagi beliau merengkuh pundakku. “Semoga kau selalu bahagian nak” dikecupnya pucuk kepalaku lembut. Rasa hangat itu seketika masuk ke sluruh aliran darahku hingga aku merinding dibuatnya. Aku mengangguk perlahan, kupaku mata ibu dengan tatapan meyakinkan, bahwa aku pasti akan bahagia.
*****
                 Tubuhku gemetar, detak jantungku tak beraturan, nafasku serasa memburu. Kuremas  tanganku gugup hingga kuku-kuku jemariku memutih, Aku resah ! Sebuah tangan putih nan kokoh terulur dan meraih tangan kananku. Meremasnya, memberikanku kekuatan dengan tatapan dalam diam dan senyumnya yang membuat darahku berdesir hingga wajahku memanas. “Tenanglah Aliya, aku disampingmu” bisikan barusan bagaikan guyuran embun pagi yang menyejukkan hati resahku. Aku menyunggingkan senyumku, senyum terindah yang aku punya untuk pria yang amat kucintai itu. Dan ia mengangguk, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah seorang pria paruh baya di depan kami.
Kupejamkan mataku. Mencoba memfokuskan seluruh indraku pada sebuah suara serak yang sedang mengalun bagaikan nada-nada indah yang membawaku melambung terbang ke atasnya nirwana. Menyambut uluran sayap dewi fortuna untuk mengelilingi indahnya pelangi dan merenggut cahaya bulan dan berjuta bintang yang akan hilang ditelan pagi. Kebahagiaanku merekah, menebar keindahan yang kini akan segara kugenggam dalam sebuah ikatan janji seumur hidup.
Rasa bahagia itu semakin menyesakkan dadaku, ketika nada-nada itu sudah pada bagian akhir. Tak terbendungkan lagi, ketika kebahagiaanku sudah sampai pada puncaknya dan kembali ke titik jenuh hingga menguap menjadi tumpukkan embun yang sudah menguasai setiap sudut mataku.
Dan akhirnya mengalir ketika aku membuka mata. Tangis kebahagiaan itu pecah sudah, memaparkan rasa syukur yang tak akan bisa aku gambarkan walau dengan berjuta-juta rangakaian kata indah. Senyum itu kembali mengunciku, senyum dari wajah menawan yang sudah menyihirku sejak 4 tahun yang lalu. Senyum yang selalu memberiku kesempatan untuk meneguk indahnya cinta, senyum yang selalu menamniku menghitung setiap detik kebahagiaan dan kesedihan yang berlalu.
“Aku mencintaimu, istriku” ia mengecup keningku penuh cinta. membawaku kembali melambung terbang dengan seluruh cinta yang ia punya sampai akhirnya aku terjatuh di dalam rengkuhannya. Aku menangis dan kubalas ungkapan cintanya dengan suara yang teramat parau.
Serbuk kebahagiaan berjatuhan di ruangan besar ini, menyapa setiap orang yang hadir untuk menyaksikan rapat puncak dari perjalan cinta, dengan aku dan pria yang kini sudah menjadi suamiku sebagai petingginya.
*****
                 Perjalanan malam ini terasa sangat lambat dan lama. Aku menggelayut manja di bahunya, larut dalam setiap kata cinta yang ia bisikan di gendang telingaku. Memblokadenya secara lembut hingga tak ada suara lain yang dapat memasukinya. Bahkan suara sirine firasat itupun tak dapat menembusnya.
Percikan air langit yang berjatuhan lirih, membasahi kaca mobil yang sedang membawa kami ke pelataran surga. Kusapa rembulan yang menyembul diluar jendela, tapi cahaya samar yang kudapatkan, seolah sang rembulan sedang memandang iri ke arah kami berdua. Hem...aku menghela nafas. Resah !
Entah darimana datangnya resah itu, yang jelas keresahan itu semakin menjadi ketika gerimis kecil di luar sana berubah menjadi hujan deras. Membawa kabut tebal yang melingkupi area di luar mobil.
Aku meliriknya err resah, tapi ia hanya membalasnya dengan senyuman yang akhirnya membuatku terpaksa tersenyum juga. Aku bertambah gusar, ketika aku tak sengaja melihat wajah kalut Pak Karno yang terpantul dikaca sepion depan.
Aku kembali meliriknya, tapi kini ia merengkuhku dalam pelukannya. Entah untuk yang ke berapa kali ia mengungkapkan nada cinta yang sama, tapi kali ini sungguh itu hanya perasaanku atau apa, suaranya terdengar berbeda.
Tapi lagi-lagi ia meredam keresahanku yang kini sudah berubah menjadi kecemasan dan rasa takut. Aku tersenyum, dan baru saja aku membuka mulutku untuk membalas ungkapan cintanya, sebuah kilatan cahaya menyeruak masuk dan menyilaukan segalanya. Kejadian itu terlalu cepat, secepat terpelantingnya mobil kami ke bahu jalanan setelah sebelumnya menghantam teronton besar. Terus berguling, hingga akhirnya mobil berhenti sama sekali.
Aku membuka mataku, mencoba mencerna semuanya diantara batas kesadaranku. Tapi terlambat, semuanya sudah terjadi. Aku tidak bisa merasakan apapun, tubuhku mati rasa karena terjepit diantara badan mobil yang hampir remuk. Aku tak mampu bergerak, bahkan bernafas saja rasanya paruku tak kuasa melakukannya. Aku mengerahkan sisa kekuatanku untuk menoleh ke samping kananku. Suamiku masih di sana, masih menggnggam erat tanganku tapi sudah terpejam dengan senyum yang sangat damai. Aku mengalihkan pandanganku karena sudah tak kuasa memandang tubuh suamiku yang sudah....ah ! bahkan aku tak kuasa menyebutnya. Kupejamkan kembali mataku, dan sayup kudengar suara teriakan di luar sana, sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

                 Aku keluar dari lubang kegelapan yang kosong itu sekitar sebulan setelah kejadian tersebut. Sadarkan diri dengan harapan hampa yang melemahkan semua sistem syaraf di tubuh serta otakku, sepenuhnya belum mampu dan sama sekali tak mau menerima kenyataan takdir yang menimpaku secara telak. Aku mengutuk takdir !
Omong kosong dengan takdir ! jika hidup memang ada diantara takdir, lalu untuk apa hidup dan kehidupan ?!. Aku terhenyak, kutarik diri dari dunia nyata ini. Mengurung setiap gerakan kehidupan di sebuah tempat yang tak akan bisa dijamah orang, mengasingkan diri di dunia sendiri. Persetan dengan semua orang yang berusaha menarik kembali cahaya kehidupan yang benar-benar sudah meredup di hatiku. Aku tak perduli.
Berbulan-bulan aku bertahan diantara hidup dan kematian, membiarkan setan-setan luka menggerogoti setiap centi sistem pikiranku. Menghancurkannya. Hingga tak ada lagi usaha yang dapat dilakukan, selain membuangku ke dalam kegelapan di dalam kegelapan. Aku semakin hancur, mendapati diriku kini berada di tempat terkutuk ini. Tapi aku sama sekali tak bisa berontak, meski aku benar-benar tak sudi menjadi bagian dari sekian banyak tubuh hidup tak bernyawa di tempat ini. Rumah sakit jiwa !
                 Semakin terpuruk, ketika otakku terasa sudah tak lagi di tempatnya. Direnggut iblis dan dicokoli bayangan-bayangan kelam yang terus berputar bagaikan lingkaran setan, terus dan tak mau berhenti. Sampai aku benar-benar muak melihatnya. Iblis kini menari dan tertwa diantara kepedihanku. Brengsek !
Hah...aku sudah muak, aku lelah berteriak di ruang kosong tak berujung di dalam hatiku. Muak memukul angin dan mengutuk takdir yang tak jua berdamai denganku. Aku menyerah ketika para iblis itu memperbudak otakku paksa. Aku menyerah ketika mereka menarikku kembali ke ruang putih tampa sekat. Kembali berada di pelataran kematian, tapi sama sekali tak tau bagaimana cara memasukinya.
Dan ketika aku menangis parau di tepian itu, dia datang dengan senyum yang sama sekali tak pernah berubah. Senyum yang ditaburi serbuk-serbuk cinta yang ia bawa dari surga. Membisikanku kembali alunan nada indah yang amat aku rindukan hingga dadaku terasa sangat sesak.
“Kembalilah Aliya, Pelihara cinta yang kutinggalkan untukmu. Dan singgahi singgasanku”
Lalu lingkaran hitam itu merenggutnya kembali, mencampakkanku di ruang putih sengap ini. Aku menangis, hingga kemudian semuanya berubah gelap.
******
“Akhirnya kau sadar juga Aliya”
“Dia sudah keluar dari komanya”
Aku mengerjap-ngerjap, mencoba membuka mata yang terasa berat dan lemah. Menguatkan indra pengelihatanku untuk membantu indra pendengaranku yang menangkap suara-suara tadi.
“Ibu...” Hanya kata itu yang dapat terlontar dari mulutku, menelan ludah untuk membasahi kerongkonganku yang gersang, Pahit.
“Iya nak, ibu di sampingmu” Wanita itu menggenggam tanganku erat, seolah tak mau lagi melepaskanku hingga terjerembab ke lubang yang sama untuk kesekian kalinya.
“Roy...” Aku menangis begitu menyebut nama itu, suaraku terdengar sangat jauh. bagaikan bukan aku yang melontarkannya, Sakit menusuk dadaku. Ibu memelukku, membiarkanku menangis tanpa suara di dalam tangisannya.
******
                 Kutundukkan kepala, memberi penghormatan pada jiwa yang tenang dalam alamnya. Kugantungkan sebait do’a dan harapan di anatara sayap para malaikat yang mengintai setiap gerakanku. Sepi...
“Apa kau tak merasa kesepian Roy ?” Kuremas gundukan tanah yang err dingin karena basah oleh gerimis yang sejak tadi menemaniku selama perjalanan untuk bertamu ke singgasannya. Memenuhi permintaannya di ruang putih tanpa sekat itu, 3 bulan lalu.
“Maafkan aku Roy” suaraku bergetar “Aku sudah mengabaikanmu selama satu tahun lebih, maafkan aku” Kini tubuhku bergoncang hebat, tak mampu menahan tangis yang bercampur kerinduan yang membuncah di sebuah sudut kosong di relung hatiku.
“Aku berjanji Roy, aku berjanji akan menjaga cinta yang kau tinggalkan untuku” Kuusap nisannya yang sudah usang dimakan waktu, lalu kukecup sambil berurai air mata.
“Aku mencintaimu...” Kuletakkan rangkaian bunga tulip kesukaanya, berharap wanginya akan menerobos masuk ke ruang sempitnya, dan akan tetap wangi sampai aku menyusulnya.
                 Kembali kutundukkan kepala. Kali ini penghormatan terakhir sebelum akhirnya aku beranjak, meninggalkan tempat damai ini dengan perasaan yang teramat lega. Aku berbalik, dan membalas senyuman yang terpatri di wajah pucatnya sembari melambaikan salam perpisahan.
Kuikhlaskan engkau direnggut alam.....
selemat jalan cinta, Damailah di dalam pelukan-Nya....

cerpen lainnya :
romansa Di Atas Awan
Lolipop Untuk Lolita
Rembulan Kesiangan

Puisi :
InvisibLe
hadirku 
Berhenti Mencari


bACK hOME>
READ MORE - DARKNESS (CerpeN)

ROMANSA DI ATAS AWAN (Cerpen)

  Romansa Di Atas Awan
Posted: 23 Jan 2011 11:08 PM PST
Hatinya dirinding ketakutan. Dee ingin mengejar ketakutan itu sampai dia tahu hidupnya masih punya harapan.Langit masih mendung. Bintang belum juga tampak untuk dilihat. Dee mengajakku melintasi padang ilalang, menelusuri jalan becek yang sore tadi diguyur hujan.’’Kita mau kemana?” tanyaku dengan nada heran.’’Ayolah! Ikut aja”.Kakiku mulai kelelahan mengikuti irama langkah Dee. Baru kali ini aku melihat Dee yang penuh semangat. Penasaran membuatku juga bersemangat untuk terus berjalan. ’’Setelah sampai kita akan menemukan keragaman jiwa yang pernah dibungkam oleh kesepian.”Aku bertambah heran. Sesuatu yang dimaksud Dee bukanlah hal yang mustahil untuk ditanyakan. Di perbukitan ini, tidak mungkin ada manusia yang berani naik dalam keadaan seperti ini. Jalannya licin. Batu kecil dan besar menganga, siap memangsa kaki yang menginjaknya. Tidak menutup kemungkinan jka ular juga siap mematuk. Namun Dee membuktikan bahwa dirinya bisa melalui itu. ’’Tolol” umpatku dalam hati. Aku sudah tidak sanggup berjalan lagi meski semangat itu menggebu. Jari kakiku sudah menjadi korban keganasan batu alam. Sayatan kecil disertai percikan darah membuatku engah untuk melanjutkan perjalanan. Dee melihat luka dikakiku. Dia malah tertawa mengejek.’’Kamu memang gak pernah tahu penderitaan orang lain” ungkapku sembari menahan kesakitan.Dee tak henti mengejekku. Muuuach. Sesuatu mengenai keningku. Perasaanku berubah drastis. Ciuman itu…’’Kita hampir sampai” ucapnya.Aku masih terpaku dengan hadiah yang pertamakali Dee berikan. Dunia ini seakan menjadi perlintasan antara aku dan Dee. Apa yang aku rasakan saat ini bukanlah sebuah perasaan kosong. Dee telah berbuat apa yang belum aku sangka sebelumnya. Ciuman yang sangat spesial bagiku.Dee manarik tanganku. Dari jarak 15 meter bukit maya sudah terlihat. Kami kembali melanjutkan perjalanan.’’Kamu yakin akan menemukan keindahan setelah ini” tanyaku lagi.’’Bawel. Nanti lihat aja sendiri”.Aku terdiam. Barangkali benar. Keindahan itu sudah hampir tampak. Cahaya gemilang berpijar dari atas bukit maya. Itukah yang dimaksud Dee dengan dunia di atas awannya. Aku tak sabar lagi untuk sampai ke bukit itu. Bersama Dee aku menemukan sebuah dunia baru. Dunia yang hanya Dee yang tahu keberadaannya. Dan sekarang aku juga tahu. Dee semakin erat menggenggam tanganku. Mendung sudah hilang, berganti gemerlap bintang-bintang. Kami sudah menginjakkan kaki di atas bukit Maya. Dee… kau adalah wanita yang beda.                                                   * * * *
Di bukit maya, Dee pertamakali bertemu dengan Kinnara*1 . Dia mengajak Dee terbang mengelilingi indahnya surga. Dia juga banyak bercerita tentang seorang bidadari yang ingin keluar dari kungkungan Tuhan. Bidadari itu meminta pada Tuhan agar diberikan satu perasaan, yaitu cinta. Tuhan murka mendengar permintaan bidadari itu. Bidadari tetaplah bidadari yang harus tunduk pada aturan kerajaan Tuhan. Dia tak diberikan perasaan apapun kecuali melaksanakan titah sang raja. Bidadari itu kabur ke dunia. Dia memberontak pada aturan. Lalu, Tuhan mengutuknya menjadi seorang gadis yang malang. Gadis itu terdampar di sebuah bukit yang gersang, sepi, dan jauh dari permukiman. Pertamakali gadis itu tak tahu apa yang hendak dilakukan. Ia menemukan pohon kecil yang tumbuh. Dengan cinta yang dimilikinya, ia memelihara pohon itu.Bertahun-tahun gadis itu berada di atas bukit. Pohon yang dirawat juga tumbuh besar, sehingga dia membuat tempat tinggal di bawahnya. Gadis jelamaan bidadari itu merasakan apa yang dilaluinya di bukit itu terasa hambar. Ia punya cinta, tapi tidak tahu kemana cinta itu tertambat selain kepada tumbuhan. Kembali dia bertanya pada Tuhan tentang takdirnya sebagai manusia. Namun kali ini Tuhan tak mengindahkan permintaannya untuk diberikan seorang yang bisa mendampingi dirinya. Ia tak percaya lagi pada Tuhan. Tuhan pun bertambah murka. Kemudian Tuhan memberikan dua pilihan padanya. Ia kembali ke surga sebagai hamba sahaya atau tetap berada di atas bukit tanpa ditemani seorang manusia. Gadis itu tetap dengan pilihannya untuk tetap tinggal di bukit itu walau dia harus sendiri. Dengan keikhlasan serta resiko yang harus ditanggungnya, ia menghabiskan waktu hidupnya di bukit maya. Cinta yang dimiliki gadis menjelma menjadi gumpalan awan disertai bintang-bintang. Gadis itu oleh penduduk sekitar dinamakan Maya, sehingga bukit itu dinamakan bukit maya. Tiap malam, bukit itu bersinar terang. Tidak semua orang bisa melihat keindahannya, cuma jiwa sepi yang bisa menikmati keindahannya. Begitulah cerita Kinnara tentang perjalanan bidadari kepada Dee.                                                                                               * * * *
Kami melepas lelah. Setelah hampir 2 jam berjalan, apa yang ingin ditunjukkan Dee sangat menakjubkan. Tempat menepi dari kegundahan, keresahan, dan perasaan haus akan bersama dengan diri sendiri bisa kutemukan disini.’’Apa yang kamu lihat ini belum apa-apa”, Dee menerawang pada bekas petang yang tersisa. Bulan sabit mulai meninggi. Kabut bergumul dengan alam, memberi hawa dingin bagi kami. ’’Bukit ini masih menyisakan kenangan”’’Dee sering kesini?”’’Tubuhku sudah tidak mengizinkan lagi”’’Maksudmu apa Dee?’’’’Tak ada yang lebih mengerti keadaan ini dari pada diri sendiri”. Kali ini Dee ingin menerjemahkan semua perasaannya. Dee memetik setangkai bunga, dan memberikannya padaku. Bunga itu hampir layu. Aku kembali bertanya pada diri sendiri kenapa Dee tidak memetik bunga yang baru mekar di sebelahnya. Sikap Dee memang membuatku heran. Selama perjalanan dia membuat peristiwa yang kurasa janggal untuk dilakukannya. Dia bukan Dee yang aku kenal. Malam ini sikapnya sangat beda, mulai dari mencium keningku, membuatku kesal, bahkan semangatnya untuk mencapai bukit ini begitu besar.’’Kamu kenapa, Dee?”Dee cekikikan. Benar dugaanku, sikapnya mulai aneh.”Nikmati saja dunia ini. Bukanlah kini semua yang ada bersamaku punya tujuan. Termasuk kamu. Selama masih ada waktu, kita bisa mencapai tujuan itu. Namun sayang, aku sudah tidak punya waktu untuk mencapai tujuanku sendiri.””Kamu itu aneh Dee?”Sambil tertawa ia memegangi kedua pundakku ”Apanya yang aneh. Lihatlah mataku. Air mataku tidak akan mengalir, karena aku masih punya waktu untuk mengenang tempat ini. Setelahnya aku akan pergi.”Gaya bicara Dee semakin ngelantur. Peristilahan yang diucapkannya menambah kejenuhanku untuk berpikir.”Kamu mau kemana? Mati?” ejekku. Dee menertawaiku sambil menepuk pundakku.”Jika kematian terjadi malam ini, aku siap. Mungkin waktuku sudah tidak banyak lagi.”Kami terkesiap oleh hempasan angin. Suara di sekitar kami hening. Kami tidak berbuat apa-apa. Kami duduk berpaku lutut, memandangi alam berjumawa pada keadaan. Aku melihat Dee. Penampilannya yang tomboy kadang membuatku bosan mewanti-wanti untuk merubah penampilan seperti wanita pada umumnya. Malam ini ada cahaya seakan keluar dari tubuh Dee. Begitu terang, mengalahkan semua cahaya di bukit ini.”Dee…”Tiba-tiba tubuh Dee terkapar. Ia pingsan. Wajahnya pucat. Tubuhnya demam. Aku berteriak. Aku mencoba melakukan sesuatu yang bisa aku lakukan demi menolongnya. Pikiranku langsung tertuju pada tas ransel miliknya. Aku mencari sesuatu di dalamnya, entah itu obat-obatan atau barang lainnya. Dan aku menemukan sebuah bungkusan kecil, sepertinya berisi obat-obatan.”Dee bangunlah.” Ia tak bereaksi. Demamnya semakin tinggi. Aku membuka bungkusan itu, dan ternyata….”Obat ini ??”Aku tidak percaya. Dee mengkonsumsi obat-obatan ini. Obat-obatan yang pernah aku belikan untuk Vivid. Dee mengidap penyakit….!”Arggghhh.. kenapa harus terulang lagi. Kejadian 3 tahun lalu kenapa harus dialami lagi oleh orang terdekatku”.Dengan sisa tenaga yang aku miliki, tubuh Dee kugendong. Aku berlari sekencang mungkin melewati semak, menerobos padang ilalang, dan menghancurkan ranjau-ranjau perbukitan. Dee harus diselamatkan. Sebagai teman dekatnya aku sangat menyesal, karena tidak tahu keadaannya. Apa lagi mengenai sakit yang diderita. Aku ini teman tak berguna. Dee, maafkan aku. Kamu tidak sendiri, masih ada aku yang setia menemanimu. Kita adalah dua insan yang berkarakter sama. Sifat kita introvert. Kita punya dunia sendiri. Dunia yang kita cipta sendiri. Bertahanlah Dee. Kita hampir sampai di permukiman penduduk. Kamu akan baik-baik saja.                                                                                      
  * * *
Dee koma, ia terbaring di ruang Anggrek RS. Cipta Medika. Mukanya pucat. Harapan dan keyakinannya mengecap dalam pusaran tubuh lemahnya. Dia bermain sendiri dalam dunianya. Saya yakin Dee tidak koma, tapi dia menghampiri ruang angannya. Setelah semalam dokter melakukan kolrposkopi*2 , keadaanya semakin membaik. Dua orang pemuda datang membesuk Dee. Aku berada di luar kamar mempersilahkan mereka masuk. Di dalam kamar, ibu Dee sedang menunggu anaknya siuman.”Anda temannya?” sapanya. Aku sedikit kesal dengan sapaannya. Nada bicaranya tidak sopan.”Betul” jawabku sekenanya.Tampak salah satu pemuda sudah akrab dengan keluarga Dee. Dia mungkin punya kedekatan emosinal dengan mereka. Aku cuma bisa menyaksikan dia akrab berbincang-bincang dengan ibunya Dee. ”Siapa dia” tanyaku pada diri sendiri.Aku ingin acuh pada pertanyaanku tentang jati diri pemuda itu. Aku ingin berhenti bertanya, tapi tidak bisa. Mungkinkah aku cemburu pada dia. Tidak mungkin. Aku dan Dee adalah sahabat, tidak lebih. Kedatangan pemuda itu membuat perasaanku risau. Padahal aku tidak punya ikatan apa-apa dengan Dee selain dari pada sahabat bermain dan bercanda.Hidup Dee memang penuh dengan rahasia. Aku mengenalnya baik, dan sampai sekarang tidak bisa mengerti keadaannya. Dee sakit pun aku tidak pernah tahu. ”Dia masih terbaring” ucapnya padaku.”Keadaan yang mengharuskan dia begitu” balasku.”Setahun silam aku meninggalkan dia. Dia begitu spesial bagiku. Kami berbeda. Dee sangat mencintaiku, begitu pula denganku”.”Cinta itu kadang memilukan” ”Ya, karena itu aku meninggalkan Dee. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kami karna kami memang berbeda.””Berbeda dari apa?Kamu meninggalkan dia karena sakit kan?””Tepat. Aku tidak mau menjalani cinta jika suatu saat ditinggal mati”.”Brengsek. Kenapa kamu sekarang kesini?”Dia diam. Lorong rumah sakit menjadi ajang adu argumen antara kami.”Semua telah terjadi. Penyesalan tiada arti. Hidup ini adalah pilihan, dan aku memilih untuk seseorang yang lebih kucintai. Aku kesini karena aku masih mencintai Dee”Hatiku langsung bergemuruh. Aku tak menyangka masih ada seorang seperti dia. Meninggalkan kekasihnya dengan alasan pasangannya sakit. Pemuda itu melanjutkan perkataannya.”Dee punya harapan. Dia pernah punya keinginan untuk pergi ke sebuah dunia miliknya. Dunia di atas awan. Semoga kamu bisa memenuhinya.””Dia….Dee sudah pergi ke dunia itu. Sebelum dia tertidur di atas pembaringan. Bodohnya kenapa aku tidak tahu kalau dia mengidap kanker”.”Dee sudah siuman. Dia memanggil namamu” panggil ibu Dee padaku.Aku lekas menghampiri Dee. aku ingin selalu berada di sampingnya. Tangannya bisa bergerak sedikit. Matanya sayu menatapku penuh arti. Dia tersenyum, dan akhirnya tangan itu tak bergerak lagi. ”Dee… kamu tidak akan mati hari ini. Semangatmu untuk bermain di bukit Maya akan mengalahkan sakitmu. Aku bersedia menemanimu bermain di sana, di bukit Maya yang berada di dunia di atas awan.”Air mataku mengalir. Detak jantung Dee semakin melemah. Haru ini bukan milikku saja. Ibu Dee dan pemuda yang meninggalkannya juga merasakannya. Kini, ruangan itu menjadi berkumpulnya hati yang setia bersama Dee.
Minggu, 23 Januari 20101.
Kinnara :Dewa asmara2.
Korlposkopi :peneropongan leher rahim. Itu untuk memastikan ada tidaknya kanker di rahim.

Cerpen Lainnya :
Lolipop Untuk Lolita
Darkness
Jejak Yang HilanG
READ MORE - ROMANSA DI ATAS AWAN (Cerpen)

Sabtu, 15 Januari 2011

Rembulan Kesiangan(Cerpen)

Aku memutuskan untuk menerima semua ini karena sekarang aku tahu kalau aku ternyata hanya pelarian saja. Tak pernah terbesit di hatinya bahkan aku tak pernah ada dalam pikirannya. Itu yang aku tahu.Aku dianggapnya ‘dia’. Baru kemarin aku tahu setelah Puri-sahabatku sekaligus adiknya-mengatakan hal tersebut padaku. Awalnya ia juga tak percaya, tetapi setelah ia melihat kakaknya masih menyimpan foto ‘dia’ dan berbicara sendiri dalam lamunannya kalau aku begitu mirip ‘dia’. Karena kemiripanku itulah yang membuatnya jatuh cinta padaku.Aku sakit. Mengapa harus terjadi.Sekarang aku hanya ingin mengakhiri semua. Semua yang pernah terjalin diantara aku dan Alfin. Aku tak ingin setiap kali aku bersamanya yang dilihatnya adalah ‘dia’. Setiap aku berbicara yang ia dengar adalah suaranya. Setiap aku tersenyum yang ia pandang adalah ‘dia’ dan setiap Alfin menyentuhku yang ada dalam pikirannya adalah ‘dia’.Terlalu sakit bila cintaku dianggap cintanya.*****Januari yang indah. Sehari sebelum tes semester dimulai aku bermain ke rumah Puri, sahabat dekatku. Jika ditempuh dengan sepeda motor hanya memakan waktu sekitar 10 menit.“Ndah, dari pada pulang awal pasti kamu dirumah nggak ada kerjaan, kan? Mending main aja ke rumahku. Kebetulan ortuku lagi ada di Jakarta jemput kakakku. Mau ya?” ajak Puri padaku.Melihat wajahnya yang tampak memelas, aku tak tega. Lagipula aku belum pernah main ke rumahnya meski kami sahabat dekat sejak kelas 1 SMA.“Baiklah. Tapi dirumahmu bener nggak ada orang?”“Ada sih. Kakakku dan teman-temannya,” jawabnya polos.“Emang ada acara apa?” tanyaku menyelidik.“Makan-makan. Soalnya salah satu teman kakakku ada yang diterima kerja di perusahaan besar.”“Kalau gitu aku nggak jadi ikut,” aku berubah pikiran.“Why?” Bahasa Inggrisnya keluar. Maklum dia juara kalau soal Bahasa Inggris.“Nothing. But, suddenly I feel bad mood. So, kita cancel aja ya. Kamu tahu sendiri, kan kalau aku nggak suka acara rame-rame.”Wajahnya berubah masam. Terlihat gurat kekecewaan.“Come on, Indah. Please….ya….seenggaknya kamu temanin aku. Kan di rumah itu adanya teman kakakku cowok semua. Paling juga bibiku yang di rumah. Terus, kalau kamu ikut kan aku punya temen. Ikut ya,” pintanya lagi.“Dengan syarat.”“Apa?”“Pulangnya anterin aku sampe rumah. OK!” wajahku ceria.Setidaknya tak keluar ongkos pulang hari ini.“Yayaya. Aku antar sampai depan rumahmu, puas?”Aku hanya mesem.*****Benar saja, rumah Puri ramai dengan cowok. Baru saja sampai depan rumahnya aku melihat ada beberapa yang main gitar di depan rumah. Aku tak berani memandang. Karena aku pemalu.Kami lewat pintu samping. Puri sudah masuk lebih dulu. Aku masih di depan pintu. Terlihat 2 orang cowok yang bermain gitar di ruang tamu. Mungkin salah satunya adalah kakak Puri. Aku ragu untuk masuk ke dalam rumah.Aduh, masuk nggak ya? I’m ashamed.“Indah, ayo masuk. Kok kamu malah melongo disitu,” ajak Puri.Aku menurutinya.“Kamu duduk aja dulu disitu,” ia menunjuk ruang tamu. “Sama kakakku nggak apa-apa ya. Aku ganti baju dulu.”“Tapi,…”Belum sempat melanjutkan kalimatku, seorang cowok yang membawa gitar mempersilakan aku untuk duduk.“Silakan duduk. Aku kakaknya Puri,” ia memperkenalkan diri. “Kamu pasti Indah. Ayo duduk dulu. Entar capek lo kalau berdiri terus.”Ku coba untuk sesopan mungkin karena aku baru kali ini bertandang ke rumah Puri. Aku duduk di kursi tepat depan kakak Puri. Ia tak terlalu memperhatikanku. Kemudian cowok yang satu keluar. Kakak Puri memainkan gitarnya. Aku kenal lagu itu, Menunggu Pagi milik Peterpan. Itu kesukaanku.Tiba-tiba ia menghentikan permainannya.“Kenal Puri sejak kapan?” tanyanya dengan nada suara yang lembut. Baru kali ini aku mendengar suara cowok selembut ini. Bahkan gaya bicaranya yang santai dan lembut itu lebih lembut dari seorang cewek.“Sejak kelas 1,” jawabku singkat.Ia memainkan gitarnya lagi dengan lagu yang sama dan ia berhenti lagi.“Kayaknya baru kali ini kamu main kesini?” tanyanya lagi.Aku mengangguk. “Iya, kak.”Sepertinya kali ini ia benar-benar menghentikan permainan gitarnya.“Aku sering dengar nama kamu dari Puri. Katanya kamu adalah sahabat satu-satunya yang paling baik. Ia sering memuji kepribadianmu. Kamu adalah tipe orang yang tidak suka membicarakan orang lain melainkan lebih sering membicarakan tentang diri sendiri jika sedang bersama Puri, itulah yang membuatnya menyukaimu,” jelasnya tentang apa yang ia tahu tentangku dari Puri.“Ku rasa itu terlalu berlebihan. Tapi aku baru tahu kalau Puri menyukaiku,” kataku  enteng. Ya…dengan sedikit humor mungkin lebih baik.“Kamu punya selera humor yang baik juga.”Hehe…dia sadar juga.Puri keluar dengan baju yang sudah diganti. Seleranya adalah kaos strit warna pink dan celana kombor hitam yang katanya ‘Cocok dipakein apa aja’.“Kamu tunggu bentar ya. Aku ke belakang bentar,” katanya padaku.“Tapi, disini aja,” pintaku dengan nada rendah.“Tak apa. Bentar aja kok. Lagian kan ada Kak Alfin.”Aku manyun. Aku paling ogah ngobrol sama orang yang nggak terlalu kenal. Rasanya serba pekewuh. Terlebih cowok.“Kenapa? Aku nakutin kamu, ya?” Alfin seolah paham kalau aku nggak terlalu nyaman dengannya.Aku diam.“Puri bilang kalau kamu jago buat cerpen dan puisi. Boleh aku lihat puisi hasil karyamu?” ia coba memulihkan pembicaraan kami.“Maaf, nggak ada,” kataku. Karena memang kenyataannya sedang tak ada puisi yang aku bawa.“Sayangnya aku punya. Maaf ya, aku udah ambil sebuah puisi yang ada di halaman belakang buku Sejarahmu.”Ia mengatakan hal yang membuatku mendelik. Bagaimana tidak? Sebait puisi itu adalah curahan hatiku dan aku juga malu karena tulisan puisi itu seperti ceker ayam alias jelek banget.“Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Mungkin tulisannya memang kurang bagus, tapi isi dari puisi itu dan bahasanya sangat indah. Bahkan jika boleh aku katakan puisi itu lebih indah daripada yang menulis,” imbuhnya.Jika kulihat dari wajahnya yang polos ia berkata jujur. Ia punya apresiasi terhadap puisi yang aku buat. Ia juga orang yang memiliki selera bahasa yang bagus. Hal itu dapat kulihat dari tutur bahasanya yang lembut dan sopan.Sesekali pembicaraan kami diselingi dengan canda tawa. Tak pernah kulihat ia tertawa bahak, sama sepertiku mungkin. Karena aku  juga bukan tipe orang yang suka tertawa bahak, menurutku seperti kuda saja. Lama kelamaan aku merasa nyaman dengan pembicaraan ini.Aku melihat senyuman kecil yang tulus dan kepolosan dari raut wajahnya. Aku tak melihat raut wajah cowok penakluk wanita yang sering kulihat di kebanyakan cowok. Alfin berbeda dari cowok lain. Meski Puri pernah cerita tentang kakaknya yang ganteng, cute dan perfect aku tak menyangka kan jauh berbeda dari bayanganku.Ku kira Alfin adalah cowok centil karena Puri pernah bilang kalau Alfin suka memakai bedak dan juga selalu creambath seminggu sekali. Ku kira dia juga cowok penakluk wanita karena banyak cewek yang tertarik padanya bahkan seorang wanita bersuami ada juga yang naksir dia.“Kak, sudah hampir sore aku mau pulang. Takutnya nanti ibuku kawatir karena jam segini aku belum pulang,” kataku seraya mengambil tasku yang tergeletak tak jauh dari tempat dudukku.“Kamu diantar Puri?” tanyanya lembut.“Iya, karena sebelum kesini dia janji akan mengantarku kalau pulang nanti.”“Bagaimana kalau aku aja yang antar kamu pulang?” tawarnya.“Tapi,…”“Udah, Ndah. Mau aja kenapa sih. Mumpung kakakku mau. Aku juga ada kerjaan mendadak,” potong Puri yang tiba-tiba muncul.Aku tak punya pilihan lain selain menerima tawaran Alfin. Entah kenapa saat aku diantar Alfin teman-temannya seolah heran dan tak percaya. Sebenarnya ada apa? Kenapa waktu di rumah Puri aku ditinggal sendiri dengan Alfin ditambah dengan teman-teman Alfin yang heran dengan aku diantar pulang olehnya.I don’t care. Yang penting aku pulang.Dan ketika malam bertabur bintangPara jangkrik berdendang, dendangkan rinduku akan rembulanSemilir angin bawakan bisikan, bisikan cinta di telinga kananku dan di telinga kiriku terdengar bisikan sang dedaunanBawakan lagu-lagu sayangMenyentuh kalbuHingga mata tertutup tubuh mendekap hangatDan saat itu malam bertabur bahagia(sebuah catatan di buku sejarah Indah)*****Hari Sabtu tes semester usai. Perasaan menjadi lega tinggal menunggu nilai keluar dan penerimaan rapor.Baru saja aku keluar dari ruangan tes Puri sudah menghadangku dan segera menggaet tanganku. Ia menggelandangku menuju kantin sekolah. Memintaku duduk dan memperhatikannya.“Setelah ini kamu kemana?” tanyanya serius.“Hei, Mbak. Kamu ini kenapa kok mimik wajahmu serius begitu? Pastinya pulang ke rumah,” jawabku.“Ni, dapat titipan,” Puri menyerahkan secarik surat padaku.”Dan sebuah pesan kalau hari ini Kak Alfin mengundangmu ke rumahku. Katanya kalau kamu tidak datang kamu nggak boleh main ke rumahku forever.”Kok aneh gitu.“Ini isinya apa?” tanyaku penasaran.“Tauk,” Puri menjawab dengan gaya manyunnya yang khas.Aku buka surat itu. Hanya ada sebuah sajak dengan nama pengarangnya yaitu Alfin dan sebuah catatan tambahan.Rasa TerindahKetika jantung berdegub kencang, tanpa disadari pintu hati terketuk, perlahan membuka tanpa sebab, kemudian perasaan indah mengembangkan sayap sayapnya, mengharap kan peluk dia, Sang Pengasih telah membukakan hati yang lama tertutup,  tak henti mata memandang, sungguh indah dan mempesona, dia memancarkan aura keindahan, hingga menembus setiap jengkal nyawaku, keanggunannya, manis senyumnya, santun sapanya hingga meluluhkan keangkuhankuYa Rahman, Inikah karunia rasa terindah yang Engkau berikan? Inikah rasa yang fitrah itu? Mampukan aku membendungnya? Ya Rahim, tiada kata dapat terucap, bilakah aku diizinkan, bolehkan aku miliki dia yang cantik rupawan? (ku tunggu dirimu di atas penantianku, hari ini)Aku belum pernah mendapatkan puisi sebagus ini. Memuji begitu indah. Ini pertama kalinya ada seorang cowok yang memberiku puisi. Tiba-tiba ada sebuah getaran di hatiku. Entah ini apa. Aku tidak tahu.Tapi…“Pur, aku malas main kemana-mana. Hari ini rencanaku ingin istirahat di rumah. Lagipula cuaca juga tidak mendukung. Pasti bentar lagi hujan,” kataku malas.“That’s up to you, honey. I just submit that letter dan massage. OK.”Haruskah?“Ayolah, Ndah,” wajah memelas Puri kembali menjadi senjatanya dan itulah yang membuatku tak bisa untuk menolak permintaannya.*****Dingin sekali. Aku hujan-hujanan dengan Puri. Hari ini dia tidak membawa sepeda motor jadi kami harus naik bis dan hujan turun deras ketika kami turun bis.Sampai di rumah Puri kami basah kuyup. Terpaksa aku harus meminjam baju Puri karena seragamku benar-benar basah.“Tapi ini kekecilan, Ri,” protesku ketika mencoba baju ganti yang ia pinjamkan.“Memang modelnya kaya gitu, Indah. Dan Cuma itu bajuku yang berlengan panjang,” ungkapnya.“Pakai ini aja,” kata Alfin menyodorkan sweater hitam.“Kebesaran, Kak,” kali ini Puri yang protes.“Lebih baik daripada kekecilan,” balas Alfin.Aku hanya diam dan menerima sweater yang dipinjamkan Alfin.Kemudian ia mengajakku makan siang di balkon kamarnya yang ada di lantai 2. Semangkuk sup jagung dan segelas coklat hangat tersaji di atas meja bundar.“Kok Cuma satu?” tanyaku.“Aku pingin suapin kamu, peri cantikku,” jawabnya lembut.Alfin menarik tanganku dan menyuapi aku. Setelah itu ia memegang tanganku dan menatapku lekat. Aku belum pernah melihat wajah cowok seperti ini. Alfin yang pertama hadir di hadapanku dengan ekpresi wajah yang lembut dan penuh perhatian.“Kamu mau apa?”“Kamu ingin tahu apa mauku?” ia justru bertanya balik. Aku mengangguk.”Yang aku inginkan adalah kamu.”“Maksudnya?”“Jujur, kamu adalah rembulan kesiangan yang membangunkan aku dari mimpi dan membuatku sadar kalau rembulan malam hanya ada dalam mimpiku,”Aku menatapnya lekat. Aku semakin tidak tahu apa maksudnya. Kusodorkan sorot pandangan penasaran padanya. Seolah ia tahu apa yang ada dalam hatiku.“Aku jatuh cinta sejak aku membaca sebait puisimu. Aku yakin kamu cantik dan berbeda dari wanita lain yang aku kenal. Dan aku kembali jatuh cinta lebih dalam saat kau ada di hadapanku sekarang,” ia menjelaskan perasaannya.“Tapi apa yang kamu maksudkan dengan rembulan kesiangan?”“Kau pasti pernah melihat rembulan yang masih bersinar tatkala fajar beranjak menapaki pagi. Aku dulunya tertidur dan bermimpi bersama rembulan malam yang maya. Ketika aku mendengar suaramu aku terbangun. Saat kubuka mata pagi telah datang dan kamulah yang ada dihadapanku. Meski sinarmu redup oleh matahari yang mulai menyingsing, bagiku kau tetap bersinar cerah dan lembut di sanubariku.”Sungguh kata-kata yang indah.*****Akupun jatuh cinta padanya sejak ia menyatakan perasaannya yang tulus. Terlebih aku tahu dari cerita Puri kalau ternyata kakaknya baru mau membuka hatinya sejak bertemu denganku. Dulu ia pernah ditinggal oleh orang yang ia cintai tanpa alasan dan ‘dia’ menghilang tanpa kabar. Membuat Alfin tergantung dan sulit melupakan.Tapi siapa sangka sebulan yang lalu aku melihatnya bersama seorang gadis. Namun ketika aku ingin membicarakan tentang hal ini, Alfin menghindar dan sering mengalihkan pembicaraan jika aku hendak menanyakan tentang gadis itu.Awalnya aku masih sabar, tapi kedua kalinya aku melihatnya bersama gadis yang sama. Ketika aku tanyakan Puri, ia juga terkejut dan tak menyangka kalau kakaknya akan kembali dengan ‘dia’.Kemudian ia bercerita tentang gadis itu. Gadis itu adalah tunangan Alfin tapi 2 tahun yang lalu gadis itu pergi tanpa alasan yang jelas. Kini ia kembali setelah hubunganku berjalan selama setahun dengan Alfin.“Indah, aku harap Kak Alfin tak akan kembali dengannya. Aku tak ingin ia terluka lagi. Terlebih kamu, kamu adalah sahabatku dan aku tak ingin kamu terluka.”Aku terhenyak. Tak dapat berkata apa-apa.Rasanya sakit. Sangat sakit.*****Hari ini Alfin mengajakku bertemu di tempat favorit kita, Green Café. Aku tidak tahu apa arti pertemuan kali ini. Apakah dia akan mengakhiri hubungan ini ataukah dia hanya ingin menjelaskan tentang ‘dia’.Akan tetapi hari ini adalah kesempatanku untuk mengakhiri hubunganku dengannya hari ini juga.Aku tak ingin dianggap ‘dia’. Aku duduk di dekat jendela menghadap ke arah sawah yang terlihat hijau. Sudah sepuluh menit aku menunggu ia belum datang. Padahal dulu setiap kali ketemuan dialah yang paling dulu datang, sekarang berbeda.Setengah jam berlalu dan ia datang dengan wajah manisnya. Akupun berusaha untuk bersikap biasa saja. Ia duduk di depanku dan memanggil waitress dan memesan coffee latte kesukaannya.“Kamu pingin pesan apa?” tanyanya.“Aku sudah pesan,” jawabku.Kami terdiam untuk beberapa saat hingga pesanannya tiba. Aku tak memandangnya sedikitpun. Aku takut tak dapat mengontrol emosiku jika aku melihatnya.“Kamu marah?” Alfin membuka pembicaraan.Aku menggeleng sambil menyeruput jus alpukat kesukaanku.“Aku tahu kamu marah karena sejak tadi kamu hanya diam. Indah…”Belum sempat ia meneruskan bicaranya aku langsung memotong.“Langsung pada intinya. Apa yang membuatmu mengajakku bertemu disini?”Sejenak ia terdiam dan menjawab, “Dia Lana. Tunanganku sebelum bertemu denganmu. Dialah yang selama ini kuanggap rembulan malam yang maya. Aku…”“Aku ingin mengakhiri hubungan ini,” kataku singkat.“Maksudmu?” Alfin nampak terkejut.“Fin, apa kurang jelas bicaraku? Aku ingin hubungan kita berakhir disini. Aku lelah jika ternyata selama ini aku kau anggap ‘dia’. bahkan dalam lamunanmu kau bilang aku mirip dia. aku tidak ingin setiap detik hubungan kita yang ada dalam pikiranmu aku adalah ‘dia’. Sakit, Fin. Sakit!” aku tak dapat membendung emosiku lagi.Perlahan mutiara bening membasahi pipiku. Hatiku perih dan sakit. Aku memang belum bisa merelakan Alfin pergi dariku tapi aku juga tak mau selamanya dianggap ‘dia’.Tiba-tiba Alfin menghapus air mataku dan menggenggam tanganku yang gemetar.“Mungkin dari beberapa sisi kamu mirip Lana. Lana dan kamu sama-sama suka dengan puisi, coklat, lagu Menunggu pagi. Tapi kalian berbeda. Terlebih aku tak bisa menemukan kejujuran dalam diri Lana.  Ia hampir menjebakku. Ia memintaku untuk kembali padanya. Tapi, seminggu yang lalu seorang lelaki menemuiku dan mengaku kalau ia adalah suami Lana. Aku tak mungkin bersamanya.Dan sudah ku katakan padamu Lana adalah rembulan malam yang maya yang hanya ada dalam mimpiku. Sedangkan kamu adalah rembulan kesiangan yang membangunkan aku dari tidur panjangku.”“Tapi tetap saja kau anggap aku ini Lana! Yang ada dalam lamunanmu adalah Lana. Dalam mimpimu adalah Lana, bahkan saat bersamaku yang ada dalam pikiranmu adalah Lana. Jangan-jangan kau menjalin hubungan denganku hanya untuk pelarian?”“Indah, aku mencintaimu tanpa melihat Lana. Jika aku melamun menyebut nama Lana itu hanya mengenang masa lalu dan satu hal aku tak pernah menganggapmu Lana. Indah, kamu terlalu indah jika kubandingkan dengannya. Kamu adalah lilin kecil yang menghangatkanku. Jadi kumohon, jangan redupkan cahayamu untukku. ”Aku terima semua ini. Aku tak bisa berpaling dan aku tak ingin berpaling. Rembulan kesiangan ataukah lilin kecil bagiku sama saja. Yang paling penting, Aku bukan ‘dia’ dan tak dianggapnya ‘dia’.  Selamanya kami berbeda.Hari ini indah. Seindah kekasihku yang bernama Indah.Sebuah pesan dari Alfin sepulang dari café.

Cerpen Lainnya :
romansa Di Atas Awan
Lolipop Untuk Lolita
Darkness
Jejak Yang HilanG

Puisi :
InvisibLe
hadirku 
Berhenti Mencari


READ MORE - Rembulan Kesiangan(Cerpen)

Jejak Yang HilanG(cerpen)



Jejak Yang HilanG*
Kedatanagn bu Netty pada hari Ulang tahun Dewi sungguh membuat aku Terkejut, sama sekali tidak diduga dan tak diharapkan. Memang Aku pernah bubuhkan tanggal dan bulan kelahiran Dewi pada saat aku menulis surat yang diantarkan ayah, tetapi aku pun tak mengira bahwa dia akan mengingat itu dan muncul pada saat yang Istimewa ini. Aku yakin Tarmaji memberitahukan rencanaku tentang ulang tahun Dewi. Beberapa kali dia sempat mampir ke rumah ayah sewaktu dia pulang kampung dan terakhir saat bertemu aku , kuceritakan tentang syukuran ulang tahun Dewi.

Sungguh tak disangka, perasaan marah yang lama terpendam luluh seketika dan sirna terhapus oleh suasana keharuan.

Bu Netty menciumi pipi Dewi, Dewi merasa asing dipangkuannya, sewaktu-waktu dia meronta ingin turun. Tetapi Bu Netty mendekapnya erat, dan dia terus meneteskan air mata. Setelah puas dia memeluk cucunya, dia pun melepaskan Dewi. Lalu menyalami Ayah dan Ibuku serta ketiga adikKu, dan akhirnya dia menghampiriku dan duduk di samping.

''Ning, ma'afkan Ibu. Apa kabar kamu selama ini ?''

Aku tidak langsung menjawab, malah menundukan Kepala, dan masih belum percaya bahwa aku bisa melihat lagi bekas majikanKu.

''Ning, Ibu ingin bicara. Ada sesuatu yang sangat penting untuk dipecahkan dan ini untuk kepentingan kita, kamu , Fahri dan Dewi''. Lanjutnya sambil menggeserkan badannya lebih dekat padaku. Ayah dan Ibu beserta ketiga adikKu memandangi kami dengan tubuh mematung tak bergerak. Dan mereka nampak segan akan kehadirannya.

''Demi masa depan Dewi dan kalian semua, Ibu telah berusaha untuk mencari solusi terbaik untuk kalian. Ning, Ibu anjurkan kamu tinggal bersama Ibu dan menikah dengan Fahri dan itu sebagai pertanggung jawaban Fahri''. Tutur Bu Netty.

Tak terbenan sedikitpun rasa gembira pada diriku. Pernyataan dia malah sempat mebuat dadaku sesak, dan aku kaget sekali, rasaya tak mungkin dan ini seperti mimpi. Bagaimana aku bisa tinggal bersama keluarga dan menikah dengan anak bekas majikanKu dan yang jelas aku sama sekali tak mencintai Fahri dan tak memiliki perasaan apa-apa padanya.

''Pikirkan baik-baik Ning, ini adalah yang terbaik untuk kalian, Dewi memerlukan seorang bapak. Jangan takut. Nanti ibu pun akan bicara pada orang tuaMu''.

Aku menatap wajah bu Netty, dan dia mengelus lenganku

''Percayalah, Ning. Semuannya akan lebih baik. Kamu akan bebeda dengan dulu, kamu akan menjadi mantuKu''.

Ternyata memang Bu Netty melakukan semua niatnya pada orang tuaku, tak terdengar semua apa yang dia utarakan karena aku pergi ke dapur mengambil minuman dan makanan sealakadarnya untuk menyuguhi bu Netty . Namun terlihat ayah dan Ibu mengangguk seakan setuju atas gagasan bu Netty.

Setelah beberapa Jam bu Netty menghabiskan waktunya bersama kami, dia pergi , bermaksud kembali ke Jakarta bersama kang Tarmaji, sopirnya yang setia.

Dan Sore hari pun tiba, sore yang cerah membawa Fahri ke rumah Kami, dia datang sendirian.

Aku persilahkan Fahri duduk, tak nampak di wajahnya suatu kesan yang istimewa, datang tanpa ragu dan kaku, seakan merasa tak berdosa, malah tergambar sikapnya seperti dulu.


''Apa Kabar, Ning ?''
''Baik-baik saja''. JawabKu singkat

Tidak ada kecanggungan dalam sikapnya dan Aku sendiri malah yang merasa segan dan sungkan menghadapinya.
Perhatian dia langsung menuju Dewi , tapi saat dia mau meraihnya , Dewi menghindar dan akhirnya dia membiarkannya asyik bermain dengan mainan2 hadiah yang dibawa bu Netty .

Meski tak nampak mimik penyesalan di wajahnya, Fahri meminta maaf dan mohon maaf selama itu dia tak pernah ada perhatian untuk Dewi karena setelah di Dwisudam dia disibukan dengan hal2 lain yang menyita banyak waktu dan bahkan dia sekarangpun mulai sibuk dengan pekerjaanya.

''Ibuku sudah menceritakan semuanya, jadi kedatanganku bukan hanya untuk membesuk Dewi tetapi mengajak kalian tinggal bersama kami, kamu harus mau , Ning !''.

Aku semakin tidak mengerti, malah menjadi bingung dan sulit memberikan jawaban, semuanya terlalu cepat dan tak tahu apa arti semuanya ini. Aku pun penasaran bagaimana hubungan Fahri dengan Sarah, pacarnya yang dulu. Apakah mereka masih bersama ?

Fahri terus memperhatikan Dewi dan memotretinya tak henti-henti. Setelah lebih dari satu Jam dia pamit dan menanti Jawabanku segera.





Ayah menyarankan aku untuk menerima pinangannya dan selekasnya menikah.

''Jangan menunggu-nunggu lagi, Tidak baik. Kalian nanti akan terbiasa kalau sudah bersama'' kata Ayah penuh kepastian. Tapi aku tak mencintai Fahri, apalagi selama tiga bulan ini aku sedang menjalin hubungan bersama Junaedi mandor di tempat kerjaKu, bagi Ku Junaedi adalah sosok lelaki yang sangat istimewa, lucu, sangat menarik dan penuh perhatian,

''Ayah tak akan memaksamu, tetapi pertimbangkan dan bayangkan, Apakah kamu tidak mau kehidupan yang lebih baik dari pada kerja sebagai tukang rajut di pabrik sweater itu. Cinta itu bisa dibina dan bisa menyusul. Entah kamu atau den fahri akan memulai dan saling mengisi lalu belajar bagaimana menyatukan diri, percayalah Ning'' lanjut ayah memberi harapan.

Bukan ayah saja yang berpendapat demikian, Kang Tarmaji sopir keluarga Pak Abdurahman, saat dia datang lagi membawa berbagai macam oleh-oleh dari keluarga Pak Abdurahman untuk Dewi, aku dan keluargaKu. Dia mengatakan hal yang sama, bahkan aku dikatakan sangat bodoh kalau aku menolak ajakan itu.

Aku bingung apa yang harus ku katakan pada Junaedi, dia pasti akan terluka hatinya dan sangat kecewa, akupun akan sedih sekali memutuskan jalinan dengan dia. Disisi lain aku tak ingin mengecewakan orang tua. Ayah nampak setuju dengan pinangan Fahri.

Keputusan menerima Pinangan aku ambil, dan acara pernikahan itupun diselenggarakan, namun sangat sederhana. Dilakukan di rumah kami dan hanya dipimpin oleh seorang penghulu, dido'akan oleh seorang Ustadz, dan disaksikan oleh Bu Netty , Tarmaji,, Keluarga ku. Sedangkan Pak Abdurahman dan Jamal tidak Hadir. Aku sungguh tak mengerti betapa singkat dan sederhananya hari pernikahan kami itu.

Setelah aku mendapat izin pemutusan kontrak kerja dari Perusahaan Sweater-. Aku dan Dewi diboyong ke Jakarta. Rumah yang dulu sebagai tempat kerjaku, sekarang menjadi Atap tempat menghuni bersama putriku.

Pada malam pertama di kamar kami yang besar, sepertinya aku berada di sebuah ruangan di istana megah tetapi hampa tak memberikan arti apa-apa.


Bersambung...................................

Cerpen Lainnya :
Lolipop Untuk Lolita

Puisi :
InvisibLe(Puisi)

Renungan :
S E T I A
Refleksi



backhome>
READ MORE - Jejak Yang HilanG(cerpen)

Jumat, 24 Desember 2010

PILIH MANA CINTA ATAU PERSAHABATAN?BAGIAN 1

Posted: 19 Dec 2010 12:49 AM PST
Chaca, Dina, dan Lisa, adalah sahabat sejati, mereka bersahabat dari kelas 1 SD sampai sekarang, 3 sahabat itu sekarang sekolah di salah satu SMA favorit yang sangat terkenal di kota mereka.Chaca, Dina, dan Lisa sangat populer di sekolahnya, mereka bertiga termasuk siswa pintar dan berprestasi, gak itu aja mereka juga baik dan sering membantu teman- temannya.Mereka juga punya hobi yang berbeda, Chaca hobi basket, Dina hobi shopping, sedangkan Lisa hobi baca buku, gak heran, di usia yang masih sangat muda Lisa udah pake kacamata.Satu komitmen diantara mereka bertiga, yaitu “Persahabatan itu nomor satu”.Gak heran kemana- mana mereka selalu bertiga, gak hanya di sekolah, di luar jam sekolah pun mereka tetap akrab, ya… layaknya sebuah persahabatan, dalam persahabatan mereka juga gak pernah ada rahasia.Hari ini ketiga sahabat itu pergi ke Mall, biasa cewek kalau gak ke Mall apa kata dunia?(itu kata Naga bonar). Selesai belanja, ketiganya makan di kafe favorit mereka.Lagi asyik- asyiknya nongkrong di kafe, tiba- tiba mata Dina tertuju pada sesuatu, apalagi kalau bukan cowok, wajar aja mereka bertiga itu juga lagi jomblo.”Tuh cowok Cute banget…”Ujar Dina, “Mana, mana?”Tanya kedua sahabatnya “Tuh…”tunjuk Dina , mata ketiga cewek- cewek itu melotot melihat cowok yang lagi beli sepatu olahraga.”Kita ke toko itu yuk…”ajak Dina, “Ngapain sich? Aku belom ngabisin makanan ku ini loh..ntar aja ya.. lagi pula tumben banget kamu mau ke toko sport, kamu kan gak hobi olahraga din..”ujar Chaca, “Aduh Chaca… lo gimana sich?kalau ngabisin makanan dulu gak keburu dong… kalo  tuh cowok cute itu pergi gimana?ayo cepetan…”Dina menarik tangan Chaca, Lisa pun lari mengejar kedua sahabatnya.“Hai, lagi nyari sepatu ya?”Tanya Dina.”Eh… ehm.. iya kamu ngapain di toko khusus cowok?tanya cowok itu, “Ehmm… aku… nemenin temen ku tuh.”ujar Dina sambil menunjuk Chaca yang lagi pegang bola basket.Cowok itu langsung beralih ke Chaca, “Kamu hobi basket ya?”Tanya cowok itu, “Iya, emang kenapa?”Tanya Chaca.”Ehm… gak apa- apa koq, Tanya aja”.Ujar tuh cowok.”Oh, ya nama kamu siapa?”Tanya Dina, “Kenalkan, nama Ku Aditya, panggil aja Adit, kamu?”Tanya Adit, “Kenalkan nama Ku Dina, dan ini sahabat ku Lisa, dan yang lagi lihat bola basket itu Chaca, dia emang hobi main basket,”ujar Dina.”Bisa minta no HP gak? Siapa tau kapan- kapan kita bisa ketemu lagi.”Tanya Dina.”Oh, boleh koq, kebetulan aku baru ada di sini sekitar seminggu yang lalu, aku belom punya banyak teman, kapan- kapan kita ketemuan ya,”Ujar Adit, “Oh… boleh, boleh, tenang aja..ntar kita atur waktunya dech.”Ujar Dina.Hari ini hari senin, sehabis upacara para siswa masuk ke kelas masing- masing, begitu juga dengan ke tiga sahabat itu, mereka masuk di kelas yang sama.Keadaan kelas kacau, biasa lah kalau gak ada guru, pasti semua siswa merasa “MERDEKA “, tiba- tiba kepala sekolah masuk, keadaan yang tadinya bising seperti pasar, kini seperti rumah sakit, sunyi gak ada keributan sama sekali. “Anak- anak, hari ini Pak Herman Guru Matematika kalian tidak masuk,jadi Bapak harap kalian jangan ribut, dan kerjakan tugas dari saya, halaman 20, kerjakan semua soal- soalnya, nanti jam istirahat kumpulkan di meja, ketua kelas harap mengantar kan ke ruangan saya, mengerti?”Tanya kepala sekolah, “Mengerti Pak…”JawabMurid- murid serempak, “Baik, sebelum kalian mengerjakan tugas, Bapak ingin mengenalkan teman baru sama kalian, Mari nak masuk.”Ujar kepala sekolah, para siswa ricuh mendengar kata- kata kepala sekolah.Sosok cowok,masuk ke kelas itu, “Hai teman- teman… kenalkan nama saya Aditya, panggil saja Adit, saya Pindahan dari luar kota ”ujar cowok itu.”Adit, cukup perkenalannya, sekarang silahkan kamu duduk, dan kerjakan tugas dari saya, kalau belum ada bukunya, pinjam saja dulu sama teman- teman, semua buku- buku pelajaran, bisa kamu ambil di ruangan saya sepulang sekolah, mengerti?”Ujar kepala sekolah, Aditya hanya mengangguk.Saat jam pulang sekolah,  ketiga sahabat itu pun pulang, lagi jalan tiba- tiba tiga sahabat itu melihat Adit yang lagi keberatan membawa buku- buku nya, Dina yang emang udah naksir berat sama Aditya langsung menemui Aditya, “Hai Dit, Mau pulang ya?”Tanya Dina. “Iya nich Din.. mana susah lagi bawa buku- buku nya.”Ujar Adit.”Sini aku bantu.”Ujar Dina, “Maaf ngerepotin ya Din..”ujar Adit, “Oh… gak apa- apa koq, “Ujar Dina, Adit tersenyum sambil memandang Chaca. “Sebagai ucapan terimakasih, mau gak kalau kalian ke rumah ku, kita makan siang di rumah ku, kebetulan aku sendirian di rumah, gimana?”Tanya Adit, “Oh.. Boleh, Boleh, iya kan teman- teman?”Ujar Dina.”Dina, kamu sama Lisa aja dech yang ke rumah Adit, aku mau pulang terus langsung ke lapangan untuk latihan Basket.”Ujar Chaca. “Chaca gak asik nih, Ayo dong Cha sekali ini… aja, Please…”bujuk Dina.”Iya Cha, kalo mau latihan basket, di rumah ku juga ada koq lapangan basket, ya.. walaupun gak sebesar lapangan basket biasa.gimana?”Ujar Adit.”Ya udah dech,”Ujar Chaca.Mereka semua pun sampai di rumah Adit,ternyata Adit itu anak orang kaya, Papa dan Mama nya Adit pebisnis, Adit sendiri anak tunggal, jadi dia udah biasa sendirian di rumah yang sebesar ini,paling juga Adit tinggal berdua sama Bik Inah pembantu keluarga Adit.”Yuk, masuk..kalian makan dulu ya?habis itu kalian bisa ke taman belakang, untuk chaca ntar aku antar ke lapangan basket, ok?”Ujar Adit.Selesai makan, mereka semua ke taman yang Adit bilang, di taman itu banyak pohon buah- buahan, juga bunga, benar- benar taman yang asri, gak heran kalau Dina dan Lisa betah di rumah Adit.”Yuk Cha, kita ke lapangan basket.”ajak Adit. Sampai di lapangan Basket, Chaca terkejut melihat lapangan basket punya Adit, “Lo gak salah dit, punya lapangan basket seluas ini, kapan- kapan kalo gue ma temen- temen mo main basket, gue ajak mereka semua ke sini aja kali ya?”ujar Chaca.”Ehm.. ide yang bagus.”ujar Adit, “Lo, gak keberatan?” Tanya Chaca,”Enggak, santai aja kale..”ujar Adit.”Gue tinggal dulu ya, gak enak sama Dina dan Lisa.”ujar Adit, Chaca hanya mengangkat jempolnya.Gak terasa sudah 3 bulan mereka berteman dekat sama Adit, Adit memang anak yang baik dan low profile, gak heran dalam waktu singkat, Adit punya banyak teman, belom lagi Adit mencalonkan diri menjadi Ketua OSIS, bidang olahraga, gak heran kalau Adit dan Chaca semakin dekat, secara Chaca juga anak OSIS di bidang yang sama, yaitu olahraga.Mereka juga semakin sering ke rumah Adit, apalagi Chaca yang punya hobi basket, hampir setiap hari di rumah Adit khusus untuk latihan basket.Kecurigaan antar sahabat mulai muncul, saat Chaca lebih banyak menghabiskan waktunya bareng Adit, terutama setelah mereka terlibat dalam tugas OSIS, yaitu pertandingan persahabatan olahraga Basket antar sekolah.Waktu Chaca di habiskan di lapangan basket bareng Adit.Dina pun mulai cemburu melihat kedekatan Chaca dengan Adit.pertengkaran pun mulai terjadi antar sahabat itu, “Cha, Lo gak kan ambil Adit dari Gue kan?”Tanya Dina. “Maksud Lo apaan sich?”Tanya Chaca.”Gue, gak suka kalau diantara kita makan sahabatnya sendiri.”Ujar Dina.”Gue makin gak ngerti, jelasin yang bener dong?”ujar Chaca.”Lo kan tahu, gue suka banget sama Adit semenjak pertemuan pertama kita di Mall sama Adit, jadi Gue harap Lo jangan makan temen.”Ujar Dina.”Dina… Gue sama Adit gak ada apa- apa koq, Lo tenang aja.. kita dekat hanya karena kita punya hobi yang sama yaitu basket, dan Adit punya lapangan basket di rumahnya, ya wajar kalo gue sering kesana, lagi pula Adit sendiri kan yang bilang kalo gue mo latihan basket di rumahnya aja, ingat gak?”Tanya Chaca.”Ingat koq, tapi jangan keseringan juga kalee… Lo harus menghargai perasaan Gue dong..”Ujar Dina, “Duh, yang lagi cemburu.. iya dech, ntar gue bilang ke Adit, kalo Gue gak bisa sering- sering ke rumahnya, ok?”ujar Chaca,”Makasih ya Cha..”ujar Dina. “Aku Cuma mo ngingatin aja, kalo kita sahabat, kalian masih ingat moto kita kan , “PERSAHABATAN KITA ITU NOMOR SATU” jadi aku gak mau kalo kalian ngerebutin Adit, terus persahabatan kita hancur.“Ujar Lisa.”Tenang aja Lisa…”Ujar Dina.Hari ini, adalah hari yang paling di tunggu –tunggu bukan hanya untuk Adit dan Chaca, tapi juga untuk sekolah, seperti rapat OSIS kemarin, hari ini akan di adakan pertandingan persahabatan antar sekolah, khusus di bidang olahraga Basket.Chaca dan Adit main dalam satu tim, melawan siswa- siswa SMA favorit lain, kali ini mereka melawan SMA BUDI MULIA, sedangkan Chaca dan Adit mewakili sekolah mereka SMA BUDI KARYA, pertandingan mulai berjalan seru, para siswa saling memberikan dukungan pada tim favoritnya, begitu juga dengan sahabat- sahabat Chaca.Selagi pertandingan berjalan alot, tiba- tiba kaki Chaca keseleo tersenggol dengan kaki salah seorang pemain dari SMA BUDI MULIA, “Aduuuh…….”teriak Chaca, penonton yang tadinya berteriak- teriak kini semakin ricuh, hasil akhirnya sekolah Chaca kalah 2:1.Chaca pun di bawa ke ruang UKS, di sana kaki Chaca di balut, “Cha, ku antar pulang ya.”Ujar Adit,”Ehmm.. gak usah dit, Aku bisa sendiri koq, tenang aja aku udah biasa cedera kayak gini, tenang aja ya?Kamu antar Dina dan Lisa aja, aku bawa sepeda koq.”Ujar Chaca.”Cha, kamu bandel amat sich, kaki kamu tuh keseleo, gak mungkin kalo kamu naik sepeda,udah aku antar aja, ya?”ujar Adit.Chaca hanya bisa pasrah, saat adit menggendongnya ke Mobil, di lain pihak ada rasa cemburu di hati Dina melihat keakraban Chaca dengan Adit.”Kamu cemburu ya Din,aku yakin Chaca gak ada maksud koq?kamu pulang bareng aku aja ya?”Ujar Lisa,Dina hanya mengangguk.Semenjak itu, Adit mulai sering datang ke rumah Chaca, mereka semakin akrab, sebenarnya Chaca gak ingin kalau Adit sering- sering main ke rumahnya,alasan Chaca Cuma satu dia gak ingin sahabatnya Dina salah paham, tapi Chaca gak bisa bilang ke Adit, karena itu hanya jadi rahasia mereka aja.Malam ini, Chaca lagi nonton TV, tiba- tiba bell di rumah Chaca berbunyi, Chaca langsung membuka pintu, “Adit…”Chaca terkejut melihat kedatangan Adit. “Koq, kaget gitu sich Cha?Aku kan udah sering main kesini, kamu gimana sich?”Tanya Adit.”Mo ngapain?” Tanya Chaca ketus.”Kamu kenapa sich Cha, lagi BT ya?”Tanya Adit. “Ehmmm.. enggak koq, ngapain bawa bunga, kamu kan tahu aku gak suka bunga.”ujar Chaca.”Kamu gak nyuruh aku masuk?”Tanya Adit. Chaca pun menyuruh Adit masuk.“Cha, ini bunga untuk kamu.Cha aku mo ngomongin hal penting sama kamu.”Ujar Adit.”Mo ngomongin apaan sich Dit?emang gak bisa hari senin aja ya?”Tanya Chaca. Adit hanya menggeleng kan kepalanya.”Cha, semenjak pertemuan pertama kita di toko olahraga waktu itu, aku udah suka sama kamu, aku juga gak nyangka kalo kita bisa ketemu lagi di sekolah.” Ujar Adit.”Aku mau kita pacaran.”ujar Adit lagi.Chaca kaget setengah mati mendengar pernyataan Adit, “emang sich Aku suka sama Adit, tapi aku gak mungkin khianatin sahabat aku sendiri.”batin Chaca.”Cha, gimana?kamu terima aku kan?” Tanya Adit.”Ehmm… Sorry Dit, Aku gak bisa. Lagi pula ada seseorang yang suka sama kamu.”ujar Chaca.”Siapa?”Tanya Adit.Sebelum Chaca menjawab pertanyaan Adit, tiba- tiba,”Cha,Lo pengkhianat, Lo bilang Lo gak suka ma Adit, sekarang semua udah jelas.” Dina marah besar sama Chaca.”Din, ini gak seperti yang lo lihat.” Ujar Chaca, tapi semua terlambat Dina lari meninggalkan Chaca dan Adit.Hari ini Dina gak datang lagi ke sekolah, gak ada pemberitahuan sama sekali sama sekolah, jangankan sekolah, Chaca dan Lisa pun gak tau Dina kemana.”Cha, kira- kira si Dina kemana ya? masa udah 3 hari gak ada pemberitahuan, dia ada ngabarin Lo gak?”Tanya Lisa, Chaca hanya menggeleng.”Lo kenapa Cha?sakit ya?”Tanya Lisa.”Lisa, Gue tahu kenapa Dina gak datang.”Ujar Chaca.”Maksud Lo?”Tanya Lisa. Chaca pun menceritakan kejadian yang dialaminya sama Dina dan Adit sabtu kemarin.”Astaga cha….. jadi kalian rebutan si Aditya? Lo tau kan, kalo Dina suka sama Adit?Cha, persahabatan itu lebih penting, Lo ingat moto kita kan?”Tanya Lisa. “Gue tahu, masalahnya Gue gak tahu kalo saat Adit nembak Gue, Gue gak tau kalo Dina datang ke rumah Gue. Lagi pula Gue nolak Adit koq,”Ujar Chaca.”Terus, si Dina tau Lo nolak Adit?”Tanya Lisa.”Gak, masalahnya, jawaban nya baru gue kasih waktu Dina pergi ninggalin gue sama Adit.”Ujar Chaca.“Cha, ntar pulang bareng ya?”ajak Adit. “Gak bisa, Chaca bakal pulang bareng gue, kami mau ke rumah Dina.”Ujar Lisa.”Ya udah kalo gitu gue ikut ya?”ujar Adit.”Denger ya dit, Gue, Dina, dan Chaca itu bersahabat jauh sebelom Lo datang, Gue gak mau persahabatan kami hancur gara- gara Lo, ngerti?” ujar Lisa.”Maksud nya apa sich?”Tanya Adit.”Adit, Dina tuch suka dan sayang banget sama Lo, jadi gue gak mau mengkianati dia.”Ujar Chaca.”Cha, lo hanya tinggal jawab lo suka ato gak sama Gue, itu aja koq, kalo lo emang suka ma gue, urusan Dina bisa gue yang ngejelasin ke dia. Gue yakin dia bakal ngerti koq.”Ujar Adit.”Cha, gak usah peduliin dia, kita ke rumah Dina sekarang.”Ujar Lisa sambil menarik tangan Chaca.Chaca dan Lisa sudah sampai di rumah Dina, mereka langsung ke kamar Dina.”Ngapain Lo ke sini Pengkhianat?”Dina benar- benar emosi melihat kedatangan Chaca.”Din, Gue sama Adit gak ada hubungan apa- apa. Adit emang nembak Gue, tapi Gue gak balas Adit koq,” Ujar Chaca. “Tapi Lo suka ma Adit kan?”Tanya Dina, “Gak Din, Sueerr…Gue lebih mentingin persahabatan kita, Gue gak mungkin khianatin temen gue sendiri.”Ujar Chaca.”Chaca bener Din, buktinya waktu tadi Adit ke rumah Chaca, kita langsung pergi ke sini dan kita gak perduliin si Adit.”Ujar Lisa.Untunglah suasana mulai clear.Chaca, Lisa ,dan Dina mulai seperti dulu.Mereka sekarang ada di kafe tempat mereka sering nongkrong.Lagi mereka makan, tiba- tiba Lisa melihat Adit dengan seorang cewek, “Liat tuh, Si Adit jalan ma cewek.”Ujar Lisa. Chaca dan Dina melihat ke arah yang di tunjuk Lisa, mereka melihat Adit menggandeng tangan cewek manis berambut panjang, “Tuh, kalian lihat kan cowok yang jadi rebutan kalian itu, Adit, baru aja sebulan yang lalu kejadian yang buat persahabatan kita hampir hancur, sekarang kalian lihat kan?Adit itu emang cowok play boy, dia Cuma mau menghancurkan persahabatan kita aja. “ujar Lisa.Akhirnya Chaca sampai di rumah, tiba- tiba, “Non Chaca, tadi Mas Adit datang ngasih surat buat Non, surat nya Bibik taruh di kamar.”ujar Bibik. Chaca langsung ke kamar dan membaca surat Adit.“Dear Chaca.Maaf karena kehadiran aku, persahabatan kamu dan yang lain jadi rusak,Aku memang bener- bener sayang sama kamu Cha, semenjak aku tahu kalau Dina juga suka sama aku, jujur perasaan aku tetap sama kamu, aku ingin mempertahankan kamu, tapi seperti kata Lisa, persahabatan kalian jauh lebih penting, dan aku gak bermaksud merusak persahabatan kalian.sekali lagi aku minta maaf, semoga persahabatan kalian bisa abadi”.(Adit ).“Terimakasih Dit, kamu emang cowok yang baik, terimakasih karena kamu menghargai persahabatan kami, terimakasih juga untuk semua yang udah kamu berikan sama aku.kamu benar Dit, persahabatan ku jauh lebih penting dari apa pun juga.” batin Chaca.
bersambunG.....
backhome>

READ MORE - PILIH MANA CINTA ATAU PERSAHABATAN?BAGIAN 1
Related Posts Plugin for WordPress,Blogger...

sponsor*