Sponsor from Chitika

Sabtu, 15 Januari 2011

Jejak Yang HilanG(cerpen)



Jejak Yang HilanG*
Kedatanagn bu Netty pada hari Ulang tahun Dewi sungguh membuat aku Terkejut, sama sekali tidak diduga dan tak diharapkan. Memang Aku pernah bubuhkan tanggal dan bulan kelahiran Dewi pada saat aku menulis surat yang diantarkan ayah, tetapi aku pun tak mengira bahwa dia akan mengingat itu dan muncul pada saat yang Istimewa ini. Aku yakin Tarmaji memberitahukan rencanaku tentang ulang tahun Dewi. Beberapa kali dia sempat mampir ke rumah ayah sewaktu dia pulang kampung dan terakhir saat bertemu aku , kuceritakan tentang syukuran ulang tahun Dewi.

Sungguh tak disangka, perasaan marah yang lama terpendam luluh seketika dan sirna terhapus oleh suasana keharuan.

Bu Netty menciumi pipi Dewi, Dewi merasa asing dipangkuannya, sewaktu-waktu dia meronta ingin turun. Tetapi Bu Netty mendekapnya erat, dan dia terus meneteskan air mata. Setelah puas dia memeluk cucunya, dia pun melepaskan Dewi. Lalu menyalami Ayah dan Ibuku serta ketiga adikKu, dan akhirnya dia menghampiriku dan duduk di samping.

''Ning, ma'afkan Ibu. Apa kabar kamu selama ini ?''

Aku tidak langsung menjawab, malah menundukan Kepala, dan masih belum percaya bahwa aku bisa melihat lagi bekas majikanKu.

''Ning, Ibu ingin bicara. Ada sesuatu yang sangat penting untuk dipecahkan dan ini untuk kepentingan kita, kamu , Fahri dan Dewi''. Lanjutnya sambil menggeserkan badannya lebih dekat padaku. Ayah dan Ibu beserta ketiga adikKu memandangi kami dengan tubuh mematung tak bergerak. Dan mereka nampak segan akan kehadirannya.

''Demi masa depan Dewi dan kalian semua, Ibu telah berusaha untuk mencari solusi terbaik untuk kalian. Ning, Ibu anjurkan kamu tinggal bersama Ibu dan menikah dengan Fahri dan itu sebagai pertanggung jawaban Fahri''. Tutur Bu Netty.

Tak terbenan sedikitpun rasa gembira pada diriku. Pernyataan dia malah sempat mebuat dadaku sesak, dan aku kaget sekali, rasaya tak mungkin dan ini seperti mimpi. Bagaimana aku bisa tinggal bersama keluarga dan menikah dengan anak bekas majikanKu dan yang jelas aku sama sekali tak mencintai Fahri dan tak memiliki perasaan apa-apa padanya.

''Pikirkan baik-baik Ning, ini adalah yang terbaik untuk kalian, Dewi memerlukan seorang bapak. Jangan takut. Nanti ibu pun akan bicara pada orang tuaMu''.

Aku menatap wajah bu Netty, dan dia mengelus lenganku

''Percayalah, Ning. Semuannya akan lebih baik. Kamu akan bebeda dengan dulu, kamu akan menjadi mantuKu''.

Ternyata memang Bu Netty melakukan semua niatnya pada orang tuaku, tak terdengar semua apa yang dia utarakan karena aku pergi ke dapur mengambil minuman dan makanan sealakadarnya untuk menyuguhi bu Netty . Namun terlihat ayah dan Ibu mengangguk seakan setuju atas gagasan bu Netty.

Setelah beberapa Jam bu Netty menghabiskan waktunya bersama kami, dia pergi , bermaksud kembali ke Jakarta bersama kang Tarmaji, sopirnya yang setia.

Dan Sore hari pun tiba, sore yang cerah membawa Fahri ke rumah Kami, dia datang sendirian.

Aku persilahkan Fahri duduk, tak nampak di wajahnya suatu kesan yang istimewa, datang tanpa ragu dan kaku, seakan merasa tak berdosa, malah tergambar sikapnya seperti dulu.


''Apa Kabar, Ning ?''
''Baik-baik saja''. JawabKu singkat

Tidak ada kecanggungan dalam sikapnya dan Aku sendiri malah yang merasa segan dan sungkan menghadapinya.
Perhatian dia langsung menuju Dewi , tapi saat dia mau meraihnya , Dewi menghindar dan akhirnya dia membiarkannya asyik bermain dengan mainan2 hadiah yang dibawa bu Netty .

Meski tak nampak mimik penyesalan di wajahnya, Fahri meminta maaf dan mohon maaf selama itu dia tak pernah ada perhatian untuk Dewi karena setelah di Dwisudam dia disibukan dengan hal2 lain yang menyita banyak waktu dan bahkan dia sekarangpun mulai sibuk dengan pekerjaanya.

''Ibuku sudah menceritakan semuanya, jadi kedatanganku bukan hanya untuk membesuk Dewi tetapi mengajak kalian tinggal bersama kami, kamu harus mau , Ning !''.

Aku semakin tidak mengerti, malah menjadi bingung dan sulit memberikan jawaban, semuanya terlalu cepat dan tak tahu apa arti semuanya ini. Aku pun penasaran bagaimana hubungan Fahri dengan Sarah, pacarnya yang dulu. Apakah mereka masih bersama ?

Fahri terus memperhatikan Dewi dan memotretinya tak henti-henti. Setelah lebih dari satu Jam dia pamit dan menanti Jawabanku segera.





Ayah menyarankan aku untuk menerima pinangannya dan selekasnya menikah.

''Jangan menunggu-nunggu lagi, Tidak baik. Kalian nanti akan terbiasa kalau sudah bersama'' kata Ayah penuh kepastian. Tapi aku tak mencintai Fahri, apalagi selama tiga bulan ini aku sedang menjalin hubungan bersama Junaedi mandor di tempat kerjaKu, bagi Ku Junaedi adalah sosok lelaki yang sangat istimewa, lucu, sangat menarik dan penuh perhatian,

''Ayah tak akan memaksamu, tetapi pertimbangkan dan bayangkan, Apakah kamu tidak mau kehidupan yang lebih baik dari pada kerja sebagai tukang rajut di pabrik sweater itu. Cinta itu bisa dibina dan bisa menyusul. Entah kamu atau den fahri akan memulai dan saling mengisi lalu belajar bagaimana menyatukan diri, percayalah Ning'' lanjut ayah memberi harapan.

Bukan ayah saja yang berpendapat demikian, Kang Tarmaji sopir keluarga Pak Abdurahman, saat dia datang lagi membawa berbagai macam oleh-oleh dari keluarga Pak Abdurahman untuk Dewi, aku dan keluargaKu. Dia mengatakan hal yang sama, bahkan aku dikatakan sangat bodoh kalau aku menolak ajakan itu.

Aku bingung apa yang harus ku katakan pada Junaedi, dia pasti akan terluka hatinya dan sangat kecewa, akupun akan sedih sekali memutuskan jalinan dengan dia. Disisi lain aku tak ingin mengecewakan orang tua. Ayah nampak setuju dengan pinangan Fahri.

Keputusan menerima Pinangan aku ambil, dan acara pernikahan itupun diselenggarakan, namun sangat sederhana. Dilakukan di rumah kami dan hanya dipimpin oleh seorang penghulu, dido'akan oleh seorang Ustadz, dan disaksikan oleh Bu Netty , Tarmaji,, Keluarga ku. Sedangkan Pak Abdurahman dan Jamal tidak Hadir. Aku sungguh tak mengerti betapa singkat dan sederhananya hari pernikahan kami itu.

Setelah aku mendapat izin pemutusan kontrak kerja dari Perusahaan Sweater-. Aku dan Dewi diboyong ke Jakarta. Rumah yang dulu sebagai tempat kerjaku, sekarang menjadi Atap tempat menghuni bersama putriku.

Pada malam pertama di kamar kami yang besar, sepertinya aku berada di sebuah ruangan di istana megah tetapi hampa tak memberikan arti apa-apa.


Bersambung...................................

Cerpen Lainnya :
Lolipop Untuk Lolita

Puisi :
InvisibLe(Puisi)

Renungan :
S E T I A
Refleksi



backhome>

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress,Blogger...

sponsor*