Sponsor from Chitika

Jumat, 25 Februari 2011

Refleksi

Refleksi
24 Januari 2011
by: yaya F Jauhari
Lalu, suami istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek duduk untuk makan sendirian, Ada air mata yg tampak mengalir dari gurat keriput sudut mata si kakek. Tak ada gugatan darinya. Tetapi, tiap nasi yg dia suap selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata yg keluar dari anak& menantunya selalu omelan agar ia tidak menjatuhkan makanan lagi. Cucunya memandang semuanya dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yg sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Tak diduga, anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orang tuanya begitu sedih& terpukul. Mereka tak mampu berkata-2 lagi. Lalu, air mata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-2 yg terucap, kedua orang tua ini mengerti, ada sesuatu yg harus diperbaiki.
Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yg keluar saat ada piring yg jatuh, makanan yang tumpah/ taplak yg ternoda.

Anak-2 adalah refleksi diri kita. Mata mereka selalu mengamati,telinga mereka akan selalu menyimak.Pikiran mereka akan selalu mencerna apa yg kita lakukan.Mereka adalah peniru.Orangtua yg bijak akan selalu menyadari "bangunan jiwa" yg disusun adalah pondasi yg kekal buat masa depan anak2.Mari susunlah bangunan itu dengan bijak,sebab untuk merekalah kita akan selalu belajar bahwa berbuat baik pada orang lain adalah sama halnya dengan tabungan masa depan

Renungan Lainnya :
S E T I A

Puisi >




Wangi Indahnya Cinta


Don't Go Anyway


Hampir Redup


Sempurnakan Jiwa


Melebur Kidung





Back Home >

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress,Blogger...

sponsor*