Sponsor from Chitika

Sabtu, 15 Januari 2011

Rembulan Kesiangan(Cerpen)

Aku memutuskan untuk menerima semua ini karena sekarang aku tahu kalau aku ternyata hanya pelarian saja. Tak pernah terbesit di hatinya bahkan aku tak pernah ada dalam pikirannya. Itu yang aku tahu.Aku dianggapnya ‘dia’. Baru kemarin aku tahu setelah Puri-sahabatku sekaligus adiknya-mengatakan hal tersebut padaku. Awalnya ia juga tak percaya, tetapi setelah ia melihat kakaknya masih menyimpan foto ‘dia’ dan berbicara sendiri dalam lamunannya kalau aku begitu mirip ‘dia’. Karena kemiripanku itulah yang membuatnya jatuh cinta padaku.Aku sakit. Mengapa harus terjadi.Sekarang aku hanya ingin mengakhiri semua. Semua yang pernah terjalin diantara aku dan Alfin. Aku tak ingin setiap kali aku bersamanya yang dilihatnya adalah ‘dia’. Setiap aku berbicara yang ia dengar adalah suaranya. Setiap aku tersenyum yang ia pandang adalah ‘dia’ dan setiap Alfin menyentuhku yang ada dalam pikirannya adalah ‘dia’.Terlalu sakit bila cintaku dianggap cintanya.*****Januari yang indah. Sehari sebelum tes semester dimulai aku bermain ke rumah Puri, sahabat dekatku. Jika ditempuh dengan sepeda motor hanya memakan waktu sekitar 10 menit.“Ndah, dari pada pulang awal pasti kamu dirumah nggak ada kerjaan, kan? Mending main aja ke rumahku. Kebetulan ortuku lagi ada di Jakarta jemput kakakku. Mau ya?” ajak Puri padaku.Melihat wajahnya yang tampak memelas, aku tak tega. Lagipula aku belum pernah main ke rumahnya meski kami sahabat dekat sejak kelas 1 SMA.“Baiklah. Tapi dirumahmu bener nggak ada orang?”“Ada sih. Kakakku dan teman-temannya,” jawabnya polos.“Emang ada acara apa?” tanyaku menyelidik.“Makan-makan. Soalnya salah satu teman kakakku ada yang diterima kerja di perusahaan besar.”“Kalau gitu aku nggak jadi ikut,” aku berubah pikiran.“Why?” Bahasa Inggrisnya keluar. Maklum dia juara kalau soal Bahasa Inggris.“Nothing. But, suddenly I feel bad mood. So, kita cancel aja ya. Kamu tahu sendiri, kan kalau aku nggak suka acara rame-rame.”Wajahnya berubah masam. Terlihat gurat kekecewaan.“Come on, Indah. Please….ya….seenggaknya kamu temanin aku. Kan di rumah itu adanya teman kakakku cowok semua. Paling juga bibiku yang di rumah. Terus, kalau kamu ikut kan aku punya temen. Ikut ya,” pintanya lagi.“Dengan syarat.”“Apa?”“Pulangnya anterin aku sampe rumah. OK!” wajahku ceria.Setidaknya tak keluar ongkos pulang hari ini.“Yayaya. Aku antar sampai depan rumahmu, puas?”Aku hanya mesem.*****Benar saja, rumah Puri ramai dengan cowok. Baru saja sampai depan rumahnya aku melihat ada beberapa yang main gitar di depan rumah. Aku tak berani memandang. Karena aku pemalu.Kami lewat pintu samping. Puri sudah masuk lebih dulu. Aku masih di depan pintu. Terlihat 2 orang cowok yang bermain gitar di ruang tamu. Mungkin salah satunya adalah kakak Puri. Aku ragu untuk masuk ke dalam rumah.Aduh, masuk nggak ya? I’m ashamed.“Indah, ayo masuk. Kok kamu malah melongo disitu,” ajak Puri.Aku menurutinya.“Kamu duduk aja dulu disitu,” ia menunjuk ruang tamu. “Sama kakakku nggak apa-apa ya. Aku ganti baju dulu.”“Tapi,…”Belum sempat melanjutkan kalimatku, seorang cowok yang membawa gitar mempersilakan aku untuk duduk.“Silakan duduk. Aku kakaknya Puri,” ia memperkenalkan diri. “Kamu pasti Indah. Ayo duduk dulu. Entar capek lo kalau berdiri terus.”Ku coba untuk sesopan mungkin karena aku baru kali ini bertandang ke rumah Puri. Aku duduk di kursi tepat depan kakak Puri. Ia tak terlalu memperhatikanku. Kemudian cowok yang satu keluar. Kakak Puri memainkan gitarnya. Aku kenal lagu itu, Menunggu Pagi milik Peterpan. Itu kesukaanku.Tiba-tiba ia menghentikan permainannya.“Kenal Puri sejak kapan?” tanyanya dengan nada suara yang lembut. Baru kali ini aku mendengar suara cowok selembut ini. Bahkan gaya bicaranya yang santai dan lembut itu lebih lembut dari seorang cewek.“Sejak kelas 1,” jawabku singkat.Ia memainkan gitarnya lagi dengan lagu yang sama dan ia berhenti lagi.“Kayaknya baru kali ini kamu main kesini?” tanyanya lagi.Aku mengangguk. “Iya, kak.”Sepertinya kali ini ia benar-benar menghentikan permainan gitarnya.“Aku sering dengar nama kamu dari Puri. Katanya kamu adalah sahabat satu-satunya yang paling baik. Ia sering memuji kepribadianmu. Kamu adalah tipe orang yang tidak suka membicarakan orang lain melainkan lebih sering membicarakan tentang diri sendiri jika sedang bersama Puri, itulah yang membuatnya menyukaimu,” jelasnya tentang apa yang ia tahu tentangku dari Puri.“Ku rasa itu terlalu berlebihan. Tapi aku baru tahu kalau Puri menyukaiku,” kataku  enteng. Ya…dengan sedikit humor mungkin lebih baik.“Kamu punya selera humor yang baik juga.”Hehe…dia sadar juga.Puri keluar dengan baju yang sudah diganti. Seleranya adalah kaos strit warna pink dan celana kombor hitam yang katanya ‘Cocok dipakein apa aja’.“Kamu tunggu bentar ya. Aku ke belakang bentar,” katanya padaku.“Tapi, disini aja,” pintaku dengan nada rendah.“Tak apa. Bentar aja kok. Lagian kan ada Kak Alfin.”Aku manyun. Aku paling ogah ngobrol sama orang yang nggak terlalu kenal. Rasanya serba pekewuh. Terlebih cowok.“Kenapa? Aku nakutin kamu, ya?” Alfin seolah paham kalau aku nggak terlalu nyaman dengannya.Aku diam.“Puri bilang kalau kamu jago buat cerpen dan puisi. Boleh aku lihat puisi hasil karyamu?” ia coba memulihkan pembicaraan kami.“Maaf, nggak ada,” kataku. Karena memang kenyataannya sedang tak ada puisi yang aku bawa.“Sayangnya aku punya. Maaf ya, aku udah ambil sebuah puisi yang ada di halaman belakang buku Sejarahmu.”Ia mengatakan hal yang membuatku mendelik. Bagaimana tidak? Sebait puisi itu adalah curahan hatiku dan aku juga malu karena tulisan puisi itu seperti ceker ayam alias jelek banget.“Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Mungkin tulisannya memang kurang bagus, tapi isi dari puisi itu dan bahasanya sangat indah. Bahkan jika boleh aku katakan puisi itu lebih indah daripada yang menulis,” imbuhnya.Jika kulihat dari wajahnya yang polos ia berkata jujur. Ia punya apresiasi terhadap puisi yang aku buat. Ia juga orang yang memiliki selera bahasa yang bagus. Hal itu dapat kulihat dari tutur bahasanya yang lembut dan sopan.Sesekali pembicaraan kami diselingi dengan canda tawa. Tak pernah kulihat ia tertawa bahak, sama sepertiku mungkin. Karena aku  juga bukan tipe orang yang suka tertawa bahak, menurutku seperti kuda saja. Lama kelamaan aku merasa nyaman dengan pembicaraan ini.Aku melihat senyuman kecil yang tulus dan kepolosan dari raut wajahnya. Aku tak melihat raut wajah cowok penakluk wanita yang sering kulihat di kebanyakan cowok. Alfin berbeda dari cowok lain. Meski Puri pernah cerita tentang kakaknya yang ganteng, cute dan perfect aku tak menyangka kan jauh berbeda dari bayanganku.Ku kira Alfin adalah cowok centil karena Puri pernah bilang kalau Alfin suka memakai bedak dan juga selalu creambath seminggu sekali. Ku kira dia juga cowok penakluk wanita karena banyak cewek yang tertarik padanya bahkan seorang wanita bersuami ada juga yang naksir dia.“Kak, sudah hampir sore aku mau pulang. Takutnya nanti ibuku kawatir karena jam segini aku belum pulang,” kataku seraya mengambil tasku yang tergeletak tak jauh dari tempat dudukku.“Kamu diantar Puri?” tanyanya lembut.“Iya, karena sebelum kesini dia janji akan mengantarku kalau pulang nanti.”“Bagaimana kalau aku aja yang antar kamu pulang?” tawarnya.“Tapi,…”“Udah, Ndah. Mau aja kenapa sih. Mumpung kakakku mau. Aku juga ada kerjaan mendadak,” potong Puri yang tiba-tiba muncul.Aku tak punya pilihan lain selain menerima tawaran Alfin. Entah kenapa saat aku diantar Alfin teman-temannya seolah heran dan tak percaya. Sebenarnya ada apa? Kenapa waktu di rumah Puri aku ditinggal sendiri dengan Alfin ditambah dengan teman-teman Alfin yang heran dengan aku diantar pulang olehnya.I don’t care. Yang penting aku pulang.Dan ketika malam bertabur bintangPara jangkrik berdendang, dendangkan rinduku akan rembulanSemilir angin bawakan bisikan, bisikan cinta di telinga kananku dan di telinga kiriku terdengar bisikan sang dedaunanBawakan lagu-lagu sayangMenyentuh kalbuHingga mata tertutup tubuh mendekap hangatDan saat itu malam bertabur bahagia(sebuah catatan di buku sejarah Indah)*****Hari Sabtu tes semester usai. Perasaan menjadi lega tinggal menunggu nilai keluar dan penerimaan rapor.Baru saja aku keluar dari ruangan tes Puri sudah menghadangku dan segera menggaet tanganku. Ia menggelandangku menuju kantin sekolah. Memintaku duduk dan memperhatikannya.“Setelah ini kamu kemana?” tanyanya serius.“Hei, Mbak. Kamu ini kenapa kok mimik wajahmu serius begitu? Pastinya pulang ke rumah,” jawabku.“Ni, dapat titipan,” Puri menyerahkan secarik surat padaku.”Dan sebuah pesan kalau hari ini Kak Alfin mengundangmu ke rumahku. Katanya kalau kamu tidak datang kamu nggak boleh main ke rumahku forever.”Kok aneh gitu.“Ini isinya apa?” tanyaku penasaran.“Tauk,” Puri menjawab dengan gaya manyunnya yang khas.Aku buka surat itu. Hanya ada sebuah sajak dengan nama pengarangnya yaitu Alfin dan sebuah catatan tambahan.Rasa TerindahKetika jantung berdegub kencang, tanpa disadari pintu hati terketuk, perlahan membuka tanpa sebab, kemudian perasaan indah mengembangkan sayap sayapnya, mengharap kan peluk dia, Sang Pengasih telah membukakan hati yang lama tertutup,  tak henti mata memandang, sungguh indah dan mempesona, dia memancarkan aura keindahan, hingga menembus setiap jengkal nyawaku, keanggunannya, manis senyumnya, santun sapanya hingga meluluhkan keangkuhankuYa Rahman, Inikah karunia rasa terindah yang Engkau berikan? Inikah rasa yang fitrah itu? Mampukan aku membendungnya? Ya Rahim, tiada kata dapat terucap, bilakah aku diizinkan, bolehkan aku miliki dia yang cantik rupawan? (ku tunggu dirimu di atas penantianku, hari ini)Aku belum pernah mendapatkan puisi sebagus ini. Memuji begitu indah. Ini pertama kalinya ada seorang cowok yang memberiku puisi. Tiba-tiba ada sebuah getaran di hatiku. Entah ini apa. Aku tidak tahu.Tapi…“Pur, aku malas main kemana-mana. Hari ini rencanaku ingin istirahat di rumah. Lagipula cuaca juga tidak mendukung. Pasti bentar lagi hujan,” kataku malas.“That’s up to you, honey. I just submit that letter dan massage. OK.”Haruskah?“Ayolah, Ndah,” wajah memelas Puri kembali menjadi senjatanya dan itulah yang membuatku tak bisa untuk menolak permintaannya.*****Dingin sekali. Aku hujan-hujanan dengan Puri. Hari ini dia tidak membawa sepeda motor jadi kami harus naik bis dan hujan turun deras ketika kami turun bis.Sampai di rumah Puri kami basah kuyup. Terpaksa aku harus meminjam baju Puri karena seragamku benar-benar basah.“Tapi ini kekecilan, Ri,” protesku ketika mencoba baju ganti yang ia pinjamkan.“Memang modelnya kaya gitu, Indah. Dan Cuma itu bajuku yang berlengan panjang,” ungkapnya.“Pakai ini aja,” kata Alfin menyodorkan sweater hitam.“Kebesaran, Kak,” kali ini Puri yang protes.“Lebih baik daripada kekecilan,” balas Alfin.Aku hanya diam dan menerima sweater yang dipinjamkan Alfin.Kemudian ia mengajakku makan siang di balkon kamarnya yang ada di lantai 2. Semangkuk sup jagung dan segelas coklat hangat tersaji di atas meja bundar.“Kok Cuma satu?” tanyaku.“Aku pingin suapin kamu, peri cantikku,” jawabnya lembut.Alfin menarik tanganku dan menyuapi aku. Setelah itu ia memegang tanganku dan menatapku lekat. Aku belum pernah melihat wajah cowok seperti ini. Alfin yang pertama hadir di hadapanku dengan ekpresi wajah yang lembut dan penuh perhatian.“Kamu mau apa?”“Kamu ingin tahu apa mauku?” ia justru bertanya balik. Aku mengangguk.”Yang aku inginkan adalah kamu.”“Maksudnya?”“Jujur, kamu adalah rembulan kesiangan yang membangunkan aku dari mimpi dan membuatku sadar kalau rembulan malam hanya ada dalam mimpiku,”Aku menatapnya lekat. Aku semakin tidak tahu apa maksudnya. Kusodorkan sorot pandangan penasaran padanya. Seolah ia tahu apa yang ada dalam hatiku.“Aku jatuh cinta sejak aku membaca sebait puisimu. Aku yakin kamu cantik dan berbeda dari wanita lain yang aku kenal. Dan aku kembali jatuh cinta lebih dalam saat kau ada di hadapanku sekarang,” ia menjelaskan perasaannya.“Tapi apa yang kamu maksudkan dengan rembulan kesiangan?”“Kau pasti pernah melihat rembulan yang masih bersinar tatkala fajar beranjak menapaki pagi. Aku dulunya tertidur dan bermimpi bersama rembulan malam yang maya. Ketika aku mendengar suaramu aku terbangun. Saat kubuka mata pagi telah datang dan kamulah yang ada dihadapanku. Meski sinarmu redup oleh matahari yang mulai menyingsing, bagiku kau tetap bersinar cerah dan lembut di sanubariku.”Sungguh kata-kata yang indah.*****Akupun jatuh cinta padanya sejak ia menyatakan perasaannya yang tulus. Terlebih aku tahu dari cerita Puri kalau ternyata kakaknya baru mau membuka hatinya sejak bertemu denganku. Dulu ia pernah ditinggal oleh orang yang ia cintai tanpa alasan dan ‘dia’ menghilang tanpa kabar. Membuat Alfin tergantung dan sulit melupakan.Tapi siapa sangka sebulan yang lalu aku melihatnya bersama seorang gadis. Namun ketika aku ingin membicarakan tentang hal ini, Alfin menghindar dan sering mengalihkan pembicaraan jika aku hendak menanyakan tentang gadis itu.Awalnya aku masih sabar, tapi kedua kalinya aku melihatnya bersama gadis yang sama. Ketika aku tanyakan Puri, ia juga terkejut dan tak menyangka kalau kakaknya akan kembali dengan ‘dia’.Kemudian ia bercerita tentang gadis itu. Gadis itu adalah tunangan Alfin tapi 2 tahun yang lalu gadis itu pergi tanpa alasan yang jelas. Kini ia kembali setelah hubunganku berjalan selama setahun dengan Alfin.“Indah, aku harap Kak Alfin tak akan kembali dengannya. Aku tak ingin ia terluka lagi. Terlebih kamu, kamu adalah sahabatku dan aku tak ingin kamu terluka.”Aku terhenyak. Tak dapat berkata apa-apa.Rasanya sakit. Sangat sakit.*****Hari ini Alfin mengajakku bertemu di tempat favorit kita, Green Café. Aku tidak tahu apa arti pertemuan kali ini. Apakah dia akan mengakhiri hubungan ini ataukah dia hanya ingin menjelaskan tentang ‘dia’.Akan tetapi hari ini adalah kesempatanku untuk mengakhiri hubunganku dengannya hari ini juga.Aku tak ingin dianggap ‘dia’. Aku duduk di dekat jendela menghadap ke arah sawah yang terlihat hijau. Sudah sepuluh menit aku menunggu ia belum datang. Padahal dulu setiap kali ketemuan dialah yang paling dulu datang, sekarang berbeda.Setengah jam berlalu dan ia datang dengan wajah manisnya. Akupun berusaha untuk bersikap biasa saja. Ia duduk di depanku dan memanggil waitress dan memesan coffee latte kesukaannya.“Kamu pingin pesan apa?” tanyanya.“Aku sudah pesan,” jawabku.Kami terdiam untuk beberapa saat hingga pesanannya tiba. Aku tak memandangnya sedikitpun. Aku takut tak dapat mengontrol emosiku jika aku melihatnya.“Kamu marah?” Alfin membuka pembicaraan.Aku menggeleng sambil menyeruput jus alpukat kesukaanku.“Aku tahu kamu marah karena sejak tadi kamu hanya diam. Indah…”Belum sempat ia meneruskan bicaranya aku langsung memotong.“Langsung pada intinya. Apa yang membuatmu mengajakku bertemu disini?”Sejenak ia terdiam dan menjawab, “Dia Lana. Tunanganku sebelum bertemu denganmu. Dialah yang selama ini kuanggap rembulan malam yang maya. Aku…”“Aku ingin mengakhiri hubungan ini,” kataku singkat.“Maksudmu?” Alfin nampak terkejut.“Fin, apa kurang jelas bicaraku? Aku ingin hubungan kita berakhir disini. Aku lelah jika ternyata selama ini aku kau anggap ‘dia’. bahkan dalam lamunanmu kau bilang aku mirip dia. aku tidak ingin setiap detik hubungan kita yang ada dalam pikiranmu aku adalah ‘dia’. Sakit, Fin. Sakit!” aku tak dapat membendung emosiku lagi.Perlahan mutiara bening membasahi pipiku. Hatiku perih dan sakit. Aku memang belum bisa merelakan Alfin pergi dariku tapi aku juga tak mau selamanya dianggap ‘dia’.Tiba-tiba Alfin menghapus air mataku dan menggenggam tanganku yang gemetar.“Mungkin dari beberapa sisi kamu mirip Lana. Lana dan kamu sama-sama suka dengan puisi, coklat, lagu Menunggu pagi. Tapi kalian berbeda. Terlebih aku tak bisa menemukan kejujuran dalam diri Lana.  Ia hampir menjebakku. Ia memintaku untuk kembali padanya. Tapi, seminggu yang lalu seorang lelaki menemuiku dan mengaku kalau ia adalah suami Lana. Aku tak mungkin bersamanya.Dan sudah ku katakan padamu Lana adalah rembulan malam yang maya yang hanya ada dalam mimpiku. Sedangkan kamu adalah rembulan kesiangan yang membangunkan aku dari tidur panjangku.”“Tapi tetap saja kau anggap aku ini Lana! Yang ada dalam lamunanmu adalah Lana. Dalam mimpimu adalah Lana, bahkan saat bersamaku yang ada dalam pikiranmu adalah Lana. Jangan-jangan kau menjalin hubungan denganku hanya untuk pelarian?”“Indah, aku mencintaimu tanpa melihat Lana. Jika aku melamun menyebut nama Lana itu hanya mengenang masa lalu dan satu hal aku tak pernah menganggapmu Lana. Indah, kamu terlalu indah jika kubandingkan dengannya. Kamu adalah lilin kecil yang menghangatkanku. Jadi kumohon, jangan redupkan cahayamu untukku. ”Aku terima semua ini. Aku tak bisa berpaling dan aku tak ingin berpaling. Rembulan kesiangan ataukah lilin kecil bagiku sama saja. Yang paling penting, Aku bukan ‘dia’ dan tak dianggapnya ‘dia’.  Selamanya kami berbeda.Hari ini indah. Seindah kekasihku yang bernama Indah.Sebuah pesan dari Alfin sepulang dari café.

Cerpen Lainnya :
romansa Di Atas Awan
Lolipop Untuk Lolita
Darkness
Jejak Yang HilanG

Puisi :
InvisibLe
hadirku 
Berhenti Mencari


0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress,Blogger...

sponsor*