Sponsor from Chitika

Jumat, 28 Januari 2011

DARKNESS (CerpeN)

DARKNESS


Aku meringkuk di sudut ruangan sempit dan sengap ini, ditemani sepi dan dipinangi gelap. Embun dari pelupuk mata tak henti-hentinya mengalir menelusuri setiap lekuk wajah pias oleh kesedihan luar biasa. Pikiranku kalut, hatiku kosong, perasaanku hampa. Rasa sesak itu tak juga mau berhenti menghujam hatiku, menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan kecil tak berbekas. Merengkuh setiap pori-poriku dalam belenggu mematikan hingga tak kuasa hidup seperti biasa. Mati rasa !
Bayangan itu terus saja berputar, seolah baru terjadi kemarin. Jatuh tepat dibintik mata, membiasakannya menjadi cahaya samar yang menyakitkan. Menutup gendang terlinga, dan memenuhinya dengan irama-irama penyesalan dan keputus asaan. Asaku suda mati, tak lagi bercokol di jasadku, melayang entah kemana, dan tersesat di lubang kegelapan tak bertepi.
Kini asaku duduk di tepian sepercik cahaya, menyaksikan dengan pandangan hampa ke sebuah sudut memori kusut yang sama sekali tak bisa terhapuskan, berputar setiap detik tampa ada tombol pause, terpapar secara gamblang di depan lensa mata. Menyesakkan !
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
                 Aku menarik sudut bibirku hingga membentuk seulas senyum manis ke pantulan diriku yang terpampang di sebuah cermin besar. Perempuan bergaun putih itupun membalas senyumku dengan cara yang sama, memandangku dengan tatapan tak terartikan.
Kusapu pandanganku ke balik punggung gadis bergaun putih itu, menyapa pandangan hangat penuh haru dari wanita paruh baya yang kini merengkuh pundakku dalam diam. Tak perlu ada kata-kata yang terlontar, pandangan itu sudah cukup menjelaskan semuanya bagiku. Kurasakan lekuk pundaku dialiri cairan hangat yang mengalir bak air sungai yang bening. Ya...wanita itu menangis. Dan aku berani bersumpah, itu adalah tangisan bahagia.
aku berdiri, dan berbalik untuk menghadap wanita itu. Kuseka air matanya dan sekali lagi beliau merengkuh pundakku. “Semoga kau selalu bahagian nak” dikecupnya pucuk kepalaku lembut. Rasa hangat itu seketika masuk ke sluruh aliran darahku hingga aku merinding dibuatnya. Aku mengangguk perlahan, kupaku mata ibu dengan tatapan meyakinkan, bahwa aku pasti akan bahagia.
*****
                 Tubuhku gemetar, detak jantungku tak beraturan, nafasku serasa memburu. Kuremas  tanganku gugup hingga kuku-kuku jemariku memutih, Aku resah ! Sebuah tangan putih nan kokoh terulur dan meraih tangan kananku. Meremasnya, memberikanku kekuatan dengan tatapan dalam diam dan senyumnya yang membuat darahku berdesir hingga wajahku memanas. “Tenanglah Aliya, aku disampingmu” bisikan barusan bagaikan guyuran embun pagi yang menyejukkan hati resahku. Aku menyunggingkan senyumku, senyum terindah yang aku punya untuk pria yang amat kucintai itu. Dan ia mengangguk, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah seorang pria paruh baya di depan kami.
Kupejamkan mataku. Mencoba memfokuskan seluruh indraku pada sebuah suara serak yang sedang mengalun bagaikan nada-nada indah yang membawaku melambung terbang ke atasnya nirwana. Menyambut uluran sayap dewi fortuna untuk mengelilingi indahnya pelangi dan merenggut cahaya bulan dan berjuta bintang yang akan hilang ditelan pagi. Kebahagiaanku merekah, menebar keindahan yang kini akan segara kugenggam dalam sebuah ikatan janji seumur hidup.
Rasa bahagia itu semakin menyesakkan dadaku, ketika nada-nada itu sudah pada bagian akhir. Tak terbendungkan lagi, ketika kebahagiaanku sudah sampai pada puncaknya dan kembali ke titik jenuh hingga menguap menjadi tumpukkan embun yang sudah menguasai setiap sudut mataku.
Dan akhirnya mengalir ketika aku membuka mata. Tangis kebahagiaan itu pecah sudah, memaparkan rasa syukur yang tak akan bisa aku gambarkan walau dengan berjuta-juta rangakaian kata indah. Senyum itu kembali mengunciku, senyum dari wajah menawan yang sudah menyihirku sejak 4 tahun yang lalu. Senyum yang selalu memberiku kesempatan untuk meneguk indahnya cinta, senyum yang selalu menamniku menghitung setiap detik kebahagiaan dan kesedihan yang berlalu.
“Aku mencintaimu, istriku” ia mengecup keningku penuh cinta. membawaku kembali melambung terbang dengan seluruh cinta yang ia punya sampai akhirnya aku terjatuh di dalam rengkuhannya. Aku menangis dan kubalas ungkapan cintanya dengan suara yang teramat parau.
Serbuk kebahagiaan berjatuhan di ruangan besar ini, menyapa setiap orang yang hadir untuk menyaksikan rapat puncak dari perjalan cinta, dengan aku dan pria yang kini sudah menjadi suamiku sebagai petingginya.
*****
                 Perjalanan malam ini terasa sangat lambat dan lama. Aku menggelayut manja di bahunya, larut dalam setiap kata cinta yang ia bisikan di gendang telingaku. Memblokadenya secara lembut hingga tak ada suara lain yang dapat memasukinya. Bahkan suara sirine firasat itupun tak dapat menembusnya.
Percikan air langit yang berjatuhan lirih, membasahi kaca mobil yang sedang membawa kami ke pelataran surga. Kusapa rembulan yang menyembul diluar jendela, tapi cahaya samar yang kudapatkan, seolah sang rembulan sedang memandang iri ke arah kami berdua. Hem...aku menghela nafas. Resah !
Entah darimana datangnya resah itu, yang jelas keresahan itu semakin menjadi ketika gerimis kecil di luar sana berubah menjadi hujan deras. Membawa kabut tebal yang melingkupi area di luar mobil.
Aku meliriknya err resah, tapi ia hanya membalasnya dengan senyuman yang akhirnya membuatku terpaksa tersenyum juga. Aku bertambah gusar, ketika aku tak sengaja melihat wajah kalut Pak Karno yang terpantul dikaca sepion depan.
Aku kembali meliriknya, tapi kini ia merengkuhku dalam pelukannya. Entah untuk yang ke berapa kali ia mengungkapkan nada cinta yang sama, tapi kali ini sungguh itu hanya perasaanku atau apa, suaranya terdengar berbeda.
Tapi lagi-lagi ia meredam keresahanku yang kini sudah berubah menjadi kecemasan dan rasa takut. Aku tersenyum, dan baru saja aku membuka mulutku untuk membalas ungkapan cintanya, sebuah kilatan cahaya menyeruak masuk dan menyilaukan segalanya. Kejadian itu terlalu cepat, secepat terpelantingnya mobil kami ke bahu jalanan setelah sebelumnya menghantam teronton besar. Terus berguling, hingga akhirnya mobil berhenti sama sekali.
Aku membuka mataku, mencoba mencerna semuanya diantara batas kesadaranku. Tapi terlambat, semuanya sudah terjadi. Aku tidak bisa merasakan apapun, tubuhku mati rasa karena terjepit diantara badan mobil yang hampir remuk. Aku tak mampu bergerak, bahkan bernafas saja rasanya paruku tak kuasa melakukannya. Aku mengerahkan sisa kekuatanku untuk menoleh ke samping kananku. Suamiku masih di sana, masih menggnggam erat tanganku tapi sudah terpejam dengan senyum yang sangat damai. Aku mengalihkan pandanganku karena sudah tak kuasa memandang tubuh suamiku yang sudah....ah ! bahkan aku tak kuasa menyebutnya. Kupejamkan kembali mataku, dan sayup kudengar suara teriakan di luar sana, sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

                 Aku keluar dari lubang kegelapan yang kosong itu sekitar sebulan setelah kejadian tersebut. Sadarkan diri dengan harapan hampa yang melemahkan semua sistem syaraf di tubuh serta otakku, sepenuhnya belum mampu dan sama sekali tak mau menerima kenyataan takdir yang menimpaku secara telak. Aku mengutuk takdir !
Omong kosong dengan takdir ! jika hidup memang ada diantara takdir, lalu untuk apa hidup dan kehidupan ?!. Aku terhenyak, kutarik diri dari dunia nyata ini. Mengurung setiap gerakan kehidupan di sebuah tempat yang tak akan bisa dijamah orang, mengasingkan diri di dunia sendiri. Persetan dengan semua orang yang berusaha menarik kembali cahaya kehidupan yang benar-benar sudah meredup di hatiku. Aku tak perduli.
Berbulan-bulan aku bertahan diantara hidup dan kematian, membiarkan setan-setan luka menggerogoti setiap centi sistem pikiranku. Menghancurkannya. Hingga tak ada lagi usaha yang dapat dilakukan, selain membuangku ke dalam kegelapan di dalam kegelapan. Aku semakin hancur, mendapati diriku kini berada di tempat terkutuk ini. Tapi aku sama sekali tak bisa berontak, meski aku benar-benar tak sudi menjadi bagian dari sekian banyak tubuh hidup tak bernyawa di tempat ini. Rumah sakit jiwa !
                 Semakin terpuruk, ketika otakku terasa sudah tak lagi di tempatnya. Direnggut iblis dan dicokoli bayangan-bayangan kelam yang terus berputar bagaikan lingkaran setan, terus dan tak mau berhenti. Sampai aku benar-benar muak melihatnya. Iblis kini menari dan tertwa diantara kepedihanku. Brengsek !
Hah...aku sudah muak, aku lelah berteriak di ruang kosong tak berujung di dalam hatiku. Muak memukul angin dan mengutuk takdir yang tak jua berdamai denganku. Aku menyerah ketika para iblis itu memperbudak otakku paksa. Aku menyerah ketika mereka menarikku kembali ke ruang putih tampa sekat. Kembali berada di pelataran kematian, tapi sama sekali tak tau bagaimana cara memasukinya.
Dan ketika aku menangis parau di tepian itu, dia datang dengan senyum yang sama sekali tak pernah berubah. Senyum yang ditaburi serbuk-serbuk cinta yang ia bawa dari surga. Membisikanku kembali alunan nada indah yang amat aku rindukan hingga dadaku terasa sangat sesak.
“Kembalilah Aliya, Pelihara cinta yang kutinggalkan untukmu. Dan singgahi singgasanku”
Lalu lingkaran hitam itu merenggutnya kembali, mencampakkanku di ruang putih sengap ini. Aku menangis, hingga kemudian semuanya berubah gelap.
******
“Akhirnya kau sadar juga Aliya”
“Dia sudah keluar dari komanya”
Aku mengerjap-ngerjap, mencoba membuka mata yang terasa berat dan lemah. Menguatkan indra pengelihatanku untuk membantu indra pendengaranku yang menangkap suara-suara tadi.
“Ibu...” Hanya kata itu yang dapat terlontar dari mulutku, menelan ludah untuk membasahi kerongkonganku yang gersang, Pahit.
“Iya nak, ibu di sampingmu” Wanita itu menggenggam tanganku erat, seolah tak mau lagi melepaskanku hingga terjerembab ke lubang yang sama untuk kesekian kalinya.
“Roy...” Aku menangis begitu menyebut nama itu, suaraku terdengar sangat jauh. bagaikan bukan aku yang melontarkannya, Sakit menusuk dadaku. Ibu memelukku, membiarkanku menangis tanpa suara di dalam tangisannya.
******
                 Kutundukkan kepala, memberi penghormatan pada jiwa yang tenang dalam alamnya. Kugantungkan sebait do’a dan harapan di anatara sayap para malaikat yang mengintai setiap gerakanku. Sepi...
“Apa kau tak merasa kesepian Roy ?” Kuremas gundukan tanah yang err dingin karena basah oleh gerimis yang sejak tadi menemaniku selama perjalanan untuk bertamu ke singgasannya. Memenuhi permintaannya di ruang putih tanpa sekat itu, 3 bulan lalu.
“Maafkan aku Roy” suaraku bergetar “Aku sudah mengabaikanmu selama satu tahun lebih, maafkan aku” Kini tubuhku bergoncang hebat, tak mampu menahan tangis yang bercampur kerinduan yang membuncah di sebuah sudut kosong di relung hatiku.
“Aku berjanji Roy, aku berjanji akan menjaga cinta yang kau tinggalkan untuku” Kuusap nisannya yang sudah usang dimakan waktu, lalu kukecup sambil berurai air mata.
“Aku mencintaimu...” Kuletakkan rangkaian bunga tulip kesukaanya, berharap wanginya akan menerobos masuk ke ruang sempitnya, dan akan tetap wangi sampai aku menyusulnya.
                 Kembali kutundukkan kepala. Kali ini penghormatan terakhir sebelum akhirnya aku beranjak, meninggalkan tempat damai ini dengan perasaan yang teramat lega. Aku berbalik, dan membalas senyuman yang terpatri di wajah pucatnya sembari melambaikan salam perpisahan.
Kuikhlaskan engkau direnggut alam.....
selemat jalan cinta, Damailah di dalam pelukan-Nya....

cerpen lainnya :
romansa Di Atas Awan
Lolipop Untuk Lolita
Rembulan Kesiangan

Puisi :
InvisibLe
hadirku 
Berhenti Mencari


bACK hOME>

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress,Blogger...

sponsor*