Sponsor from Chitika

Sabtu, 04 Desember 2010

Biroe bab-1

biroe
bab 1.

       Diantara  ketenangan kota ini,serta keindahanya dan disebuah toko buku kecil diujung jalan yg tampak mini,disanalah seorang pemuda dewasa bernama Ian menjalankan usahanya,ia menjual berbagai macam buku,mulai dari,pendidikan,sejarah,politik,love story,pengetahuan,relijius,motivator,novel,tata cara berwirausaha,hingga tata cara memuaskan pasangan,tapi kita tidak membahas buku-buku yg dijualnya.

        Ian adalah seorang pemuda yg mempunyai sifat yg sangat sulit untuk dimengerti oleh orang yg baru mengenalnya,maka dari itu tak banyak yg mengenal Ian seperti apa,dibalik wajahnya yang pendiam serta tubuhnya yg tegap,Ian seperti menyimpan sesuatu yg sangat di rahasiakan sepanjang hidupnya,tapi itu berbeda saat ia menghadapi pelanggan-pelangganya yang ingin membeli buku di tokonya,ia selalu tampak ramah,melayaninya dengan sungguh-sungguh,kadang tersirat senyuman indah diwajahnya,yg bisa dikatakan sangat jarang senyum indah itu ditampakanya,dan ditoko buku itulah dia menghabiskan hari-harinya.

        Dan seperti pagi ini,ia baru saja selesai membereskan buku-buku ditokonya,dan siap membuka pintu roling doornya,saat itu waktu baru menunjukan pukul 8:40 pagi,sambil menunggu pembeli,seperti biasa ia duduk di kursi meja kasir sambil membaca buku,ian memang hobi membaca buku mungkin itu yang membuatnya untuk membuka toko buku ini,itung-itung hobi terpuaskan,usaha pun tetap berjalan.

        Pintu toko terbuka itu pertanda pembeli datang,tampak seorang wanita mengayunkan langkah sambil menyapa Ian dan wanita itu pun bergegas mencari buku yg ingin di belinya,sebenarnya wanita itu adalah pelanggan di toko buku Ian,sama seperti pelanggan yg lain,wanita itu sibuk mencari dan melihat-lihat cover-cover buku,Ian pun tetap sibuk dengan buku bacaanya.
      
         Tak lama buku yg wanita itu cari dapat,ia pun bergegas menuju ke meja kasir di tempat Ian duduk,beberapa buku ditunjukan pada Ian,dan Ian pun segera melayaninya,diantara buku-bukunya terdapat buku best seller seperti, karya Mitch Albom seperti”Teusdays with Morrie” ada juga karya Nora Roberts dan James Petterson pencipta kisah roman “Alex Cross dan Kiss the Grils.”

          Ian pun memberikan nota pembelian buku yg harus di bayar oleh wanita itu,”dapat diskon tidak…? Wanita itu memulai pembicaraan,”udah semuanya udah di diskon 10%…” jawab Ian. ”koleksi buku romantiknya kenapa tak begitu lengkap disini



…? tanya wanita itu. Dengan santai Ian pun menjawab “kebetulan lagi laris buku-buku romantiknya….” Ian pun menulis nama wanita itu di nota pembelian,Linda nama wanita yang kelihatanya seperti wanita karier itu.dan wanita itu mulai beranjak menuju pintu keluar,sebuah mobil sudah menunggu wanita itu di parkiran,dan seorang pria muda berada di dalam mobil itu,sambil tersenyum keduanya meniggalkan tokobuku Ian.

          Linda sebenarya wanita yg bekerja sebagai seorang Psikater dan juga Dokter Psikolog,dia tipe wanita yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan juga memiliki optimisme yang tinggi dalam menjalankan profesinya,termasuk dalam mengobati pasien-pasienya,bisa dikatakan dia wanita yg tak banyak memiliki waktu untuk bersenang-senang,seperti layaknya wanita-wanita modern lainya.      
 

Bab 2
        
         Linda memiliki seorang teman pria bernama Albert,Albert yang seorang HRD disebuah perusahaan  property,sudah lama menjalin hubungan dengan Linda,bahkan Albert berencana akan menikahi Linda,tapi untuk hal yg satu itu Linda menyatakan dirinya belum siap untuk menikah karna dia merasa Impianya belum sepenuhnya tercapai dan itu harus membuat Albert bersabar lebih lama,Albert sebenarnya tipe pria yg romantis,dia selalu ada dikala Linda membutuhkanya,dia rela berkorban apa pun demi Linda,Albert sudah menjadi sandaran buat Linda,Linda sebenarya mengetahui hal itu,tapi dengan ketidaksiapan hatinya utuk Albert,Linda bingung menghadapinya,maka dari itu ia mulai suka membaca buku-buku romantic,agar dirinya mampu menghadapi perasaan Albert padanya,mungkin karna ini adalah yang pertama dalam hidup Linda


         Albert dengan sabar dan tabah,selalu bertahan menghadapi keputusan Linda ,ia percaya kesabaran dalam cinta sejatinya akan menghadirkan suatu keindahan yaitu disaat dimana Linda akan hidup bersamanya nantinya,sebenarya Albert dan Linda adalah pasangan yg serasi jika orang melihat mereka berdua,bahkan kedua orang tua mereka pun tlah merestui hubungan mereka.
Mereka berdua bukanlah dua sedjoli yang tampak kasmaran,dikarnakan Albert yang sudah menginjak usia 30an dan Linda sendiri berusia 26 tahun,hari-hari mereka selalu sibuk dengan berbagai macam pekerjaan masing-masing.

  
        Di hari minggu pagi ini,Linda berencana mau mengunjungi toko buku”biroe” toko buku milik Ian,karna ada beberapa buku yg ingin di belinya,ia takut jika buku yg dicarinya di dahului orang lain,saat itu ia pergi sendirian,dikarnakan Albert sedang sibuk mengurus pekerjaan kantornya.sambil menghirup udara pagi Linda menuju toko buku Ian,saat itu hari masih pagi waktu menunjukan pukul 08:11 ternyata toko buku ian masih tutup,Linda pun mernutuskan untuk menunggunya,15 menit berlalu,akhirny Ian datang dan ia bingung saat
melihat seorang wanita di depan tokonya dengan penuh tanda Tanya,ian berusaha tak menghiraukanya,Linda pun menghampiri Ian sambil berkata ”saya kira toko buku ini bukanya pagi-pagi benar…” sambil membuka pintu roling door Ian menjawab ”maaf  sudah membuat anda menunggu,saya biasa buka pukul 9 pagi…” lalu ian bergegas masuk toko,”oh,klo gitu saya kepagian datangnya ya…? Canda Linda.Ian hanya membalas dengan tersenyum.


        Ternyata Linda mengikuti Ian memasuki toko,Ian tak mampu mencegahnya,”maaf,keadaanya lagi berantakan…” ujar ian seraya mulai merapikan buku-buku di tokonya,”ah,tidak apa-apa” jawab Linda.ia pun melihat-lihat keadaan toko yg lagi berantakan,”udah berapa lama buka toko buku ini…? Tanya Linda mulai akrab,sambil merapikan buku –buku Ian menjawab “sudah lama…”
                    “toko buku ini dikelola sendiri…? Tanya Linda lagi.
                    “seperti yang anda lihat,saat ini” jawab ian enteng.
                    “anda hobi baca buku juga…? Tanya Linda.
                    “begitulah,sama seperti anda,untuk apa ke toko buku jika kita tak hobi membacanya…” jelas Ian lagi,Linda hanya tersenyum mendengarnya,saat ian membersihkan tokonya,di luar dugaan ternyata Linda ikut membantu Ian mempersiapkan tokonya.
                     “sudahlah tak perlu repot-repot” cegah Ian.tapi Linda tak menggubrisnya,ian merasa tak enak pada Linda,lalu ian menawarkan minuman dingin pada Linda,sebagai ucapan terima kasih,Linda pun menerimanya tak lama Linda pun beranjak pergi,setelah membeli buku.


Bab 3

        Sore ini Ian memutuskan untuk menutup toko bukunya lebih cepat,karna cuaca saat itu tampak begitu cerah,sebenarnya hari ini pikiran Ian kalut dan tampak kacau,biasanya saat hatinya tampak gundah ia mencari sesuatu yang dapat menenangkan hatinya,ia selalu mencari tempat yang tenang,damai dan juga tentram,akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke pantai,ia merasa hanya pantai lah tempat yang tepat untuk dinikmati di saat-saat seperti ini.
Sambil membawa buku bacaan ian mulai menikmati suasana pantai,ditemani secangkir teh,ia menghirup udara pantai,sedikit demi sedikit,layaknya instrument musik Beethoven yang mengalun indah,udara pantai pun memasuki bagian oragan-organ tubuhnya,menyegarkan jiwanya,burung-burung camar terbang cantik diatasnya,deru ombak seakan menambah improvisasi alunan hati jiwa yang sendu,warna bianglala memantul diatas permukaan laut yang diuapkan matahari sore,marun,biru dan jingga,semilir angin layaknya angin dari lautan yunani laut”Aegant sea”. Inilah arti hidup baginya.


         Setelah puas menikmati semua itu Ian pun beranjak pergi,tiga jam lebih ia di pantai,tak terasa malam tlah menyelimuti bumi dan para bintang-bintang menerangi jalan-jalan dikota,Ian memutuskan untuk berkunjung ke restoran temanya Alan,restoran yang berada di ujung jalan diantara blok-blok toko-toko besar,tampak tak begitu ramai,kecil tapi elegant,namun restoran ini hampir setiap malam buka,karna pelanggan-pelanggan Alan hampir satiap malam,menghabiskan waktunya di restoran ini,mereka dari berbagai kalangan,semua tampak bersahabat,Alan menghapiri Ian seraya memberikanya secangkir coffe,sambil mendengarkan alunan piano,Ian kembali dalam lamunan perjalanan hidup yang seakaan merenggut kebahagianya,ia tampak pedih,bagai sesuatu telah menghantamnya dengan keras,jatuh tersungkur lalu pergi dengan tertawa,wajahnya sendu saat “love my life milik kelompok musik Queen mengalun, dari sang pianis di restorant itu,seakan menggambarkan hatinya saat ini.
                                          
                            “beberapa hari yang lalu ayahmu berkunjung kemari…” Alan menyadarkan Ian.                           

Ian tampak terkejut mendengar pemberitahuan Alan,ia tak pernah menyangka ayahnya akan kemari.                
                             “dia menanyakan keadaanmu padaku…”lanjut Alan
Ian tampak tak menghiraukan perkataan Alan.”ayahmu tampak mengkhawatirkan keadaanmu…” ujar Alan.”sekarang ayahmu sudah pergi,ia tak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaanya…” ujar Ian lagi “tapi dia meninggalkan ini…” Alan seraya menunjukan amplop putih,tak lama Alan meninggalkan Ian sendiri.


           Tanpa disadari Ian saat itu direstoran Alan,tak jauh dari meja tempat ian duduk,ada Linda sedang  bersama teman-temanya sedang menikmati makan malam di restoran milik Alan,dan ternyata sedari tadi Linda telah memperhatikan Ian saat pertama tiba tadi.kini Ian telah pergi meninggalkan restoran itu,Linda merasa ada yang aneh pada diri Ian,sejak pertama bertemu di toko buku”biroe” akhirnya Linda mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada Alan.dari keterangan Alan  akhiranya Linda mengetahui siapa Ian sebenarnya dan apa yang terjadi pada diri Ian.dan dari sinilah nantinya kisah mereka terjadi,diantara kebahagian,kesedihan,dendam dan air mata,yang mengiringi kisah mereka.

Bab 4

        Linda masih memikirkan sesuatu yang terjadi pada diri Ian,diluar dugaan Linda,Ian begitu dalam menyimpan semua ini,Ian sebenarya mempunyai keluarga yang bahagia,memiliki seorang ayah dan ibu,masa kecilnya ia habiskan dengan kebahagian,bersama kedua orang tuanya,semua terasa indah baginya,beranjak di usia tujuh tahun sesuatu mulai terjadi pada diri Ian,ia sering melakukan sesuatu yang diluar batas kendali,kadang ia merasa semua orang ingin membunuhnya termasuk kedua orang tuanya sendiri,dan ia sering marah-marah diluar batas,dengan menghancurkan semua yang ada di dekatnya,ibunya sangat sedih melihat putra satu-satunya seperti itu,hingga ibunya sering jatuh sakit,ayahnya telah berusaha mengobati Ian kemana-mana,termasuk keluar negri,keluarga besar ayahnya menganggap ini adalah sebuah kutukan,karna ayah Ian telah menikahi ibu Ian tanpa restu orang tua keluarga besar ayah Ian,kakek Ian yang berasal dari ayahnya adalah seorang pengusaha ternama,mereka tak pernah menyetujui ayah Ian untuk menikahi ibunya,karna ibu Ian adalah seorang anak haram,dari pengusaha kaya yang memperistri seorang wanita panggilan,semakin lama sakit ibu Ian semakin parah,ditambah lagi dengan keadaan keluarga besarnya yang seakan tak bisa menerima dia dan putranya,ibunya merasa sedih pada keadaan Ian,bagaimana tidak di usianya yang masih kecil,Ian harus menanggungkan penderitaan seperi ini,ia tidak bisa tumbuh normal layaknya anak-anak seumurnya,ditambah lagi kakek,neneknya tak sudi menganggapnya cucu,Ian terkucil dari keluarga besarnya,bagai seekor burung dalam sangkar emas,akhirnya ibu Ian tak sanggup lagi menghadapi semua ini,ibunya tewas dengan tragis,ibunya bunuh diri!

           Itu menjadi pukulan berat buat ayah Ian,bagaimana tidak wanita yang sangat dicintainya pergi dengan sangat tragis,wanita yang menjadi belahan hatinya harus pergi meninggalkanya untuk selama-lamanya,ternyata sejak kejadian itu,Ian semakin tak terkendali,,saat malam tiba Ian selalu menangis,berteriak memanggil-manggil ibunya,Ian sering bertanya kepada ayahnya kemana ibu pergi,ayahnya tak menghiraukanya,karna ayahnya sangat stress sekali saat itu,sampai-sampai pengasuh dan para pembantunya selalu menangis saat Ian menanyakaan keberadaan ibunya,mereka tak sanggup memberitahukan pada Ian apa yang terjadi pada ibunya,Ian merasa ibunya masih hidup,masih menyayanginya,masih ada didekatnya,ia selalu bilang pada semua orang bahwa ibunya sedang pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri,tapi setelah itu ia menangis tersedu-sedu,bertanya kenapa ibu tak mau mengajaknya?

            Akhirnya karna Ian semakin tak terkendali,ayahnya membawa Ian kerumah sakit jiwa,untuk dititipkan disana,sedangkan ayahnya atas permintaan kakek Ian,disuruh menikah lagi,dan melupakan semua kejadian itu,termasuk melupakan putra satu-satunya,lengkaplah penderitaan Ian,seusia itu dia harus menanggung semuanya,Ian mulai tak mau bicara,tapi bukan berarti dia bisu,hanya ia tak mau banyak bicara,saat berada dirumah sakit jiwa harta satu-satunya yang dia punya hanya potret keluarga,saat dia bersama ayah dan ibunya,setiap malam dia menangis memandang foto itu,ia selalu berteriak “ibu Ian ingin pulang,Ian takut disini,ayah sudah tak menyayangi Ian lagi,ayah kenapa meninggalkan ian sendiri disini,ibu dimanaa…”?

           Hampir 15 tahun Ian berada disana,Ian menghabiskan masa kecilnya dirumah sakit jiwa,masa kecil yang terenggut,kebahagian yang hilang,cinta kedua orang tua yang tlah sirna,sebenarnya Ian tak pernah terganggu jiwanya,secara fisik,ia tumbuh sehat,hanya kadang-kadang mentalnya agak teguncang,jika ingatan masa kecilnya terbayang kembali.
Bab 5

        Waktu menunjukan pukul 2 pagi,namun,Linda tak juga mampu memejamkan matanya,ia masih memikirkan cerita Alan tadi,bagaimana mungkin seorang Ian sanggup dengan keadan yang mungkin sebagian orang,tak mampu menghadapinya,tapi mungkin inilah hidup yang harus dijalani manusia,Tuhan punya rencana yang dirahasiakan dari seluruh umatNya,siapa yang tahu dengan keadaan selanjutnya,karna manusia hanya menjalaninya,tapi jika kita dapat memilih,mungkin sebagian dari kehidupan yang kita alami,bukanlah suatu yang ingin kita pilih,itulah suatu proses kehidupan yang harus kita lalui.

         Toko buku Ian hari itu tampak sepi,seperti biasa Ian duduk di meja kasir sambil membaca buku bacaanya,dan ekspresi wajah tetap sama seperti hari-hari sebelumnya,tak ada yang berbeda dari diri Ian,kemeja lengan panjang yang di gulung setengah lengan,jam tangan yang selalu setia menunjukan waktu padanya dan rambut panjang sebahu yang dibiarkan terurai bebas,tak lama ia teringat akan amplop pemberian ayahnya,ia mengambil amplop itu dari dalam tasnya,lalu memandanginya lama-lama,ia berpikir apa yang tersembunyi dalam amplop itu,akhirnya ia membukanya,selembar kertas kecil dan sebuah potret keluarga juga ada selembar cek didalamnya,Ian membaca selembar kertas kecil itu,tampaknya seperti surat pendek,isinyi berbunyi:
              “Ian putraku,maaf ayah tak bisa menemuimu,putraku,ayah tahu,ini tampak tak mungkin,ayah tak berharap banyak,ayah ingin kau memaafkan ayah dan juga melupakan kejadian itu,kakekmu telah tiada,foto itu adalah foto keluarga barumu,kau memiliki beberapa saudara,juga seorang ibu tiri yang baik,ayah selalu menunggumu kembali putraku Ian.

           Setelah membacanya,Ian melihat foto keluarga itu,mereka tampak bahagia,sebenarnya saat Ian berada di rumah sakit jiwa itu,ayahnya sering menjenguk Ian disana,tapi Ian tak pernah mau menemui ayahnya,ayahnya sering memberikan berbagai hadiah untuknya,tapi semua itu di tolaknya,Ian memang tak pernah mau menemui ayahnya,tapi disaat ayahnya hendak meninggalkan rumah sakit,Ian selalu memandangi ayahnya lewat jendela,sambil manangis tersedu,ayahnya tak pernah tahu hal itu.

            Ian tampak larut dalam lamunan surat ayahnya,ia tampak serius,dalam hatinya ia berkata bagaimana mungkin ia dapat melupakan sesuatu yang telah membuatnya terluka di sebagian hidupnya.saat ia menutup wajah dengan ke dua tanganya,ia terkejut melihat Linda berada di dekatnya,
                   “maaf,mengagetkan mu…” ujar Linda. Ian hanya diam saja,tapi ekspresi wajahnya tampak bertanya sedang apa dia disini. “sekali lagi maaf,saya tidak bermaksud mengagetkanmu…” mohon Linda.”kebetulan saya lewat sini,sekalian ingin membeli buku…” ujar Linda mencari alasan,Ian membuka tanganya tanda mempersilahkan Linda mencari buku yang ingin dibelinya,Linda mulai mencari alasan untuk dapat berbicang-bincang pada Ian,sebenarnya Linda yang seorang psikater,merasa peduli pada keadaan Ian,ini menjadi sebuah tantangan baginya,karna selama menjadi seorang psikater,ia tak pernah menemukan kasus seperti ini,dan dia merasa iba pada Ian,sebagai seorang psikater ia merasa bertanggung jawab dan harus membantu Ian,melupakan peristiwa pahit dalam hidupnya,dan mengembalikan kehidupan normal Ian.
                “maaf kalo saya lancang,kelihatanya kamu mengalami hari yang sangat berat…? Tanya Linda memberanikan pembicaran.Ian merasa sangat terkejut dengan perkataan Linda,dalam hatinya Ian berkata”siapa wanita ini…? Karna Ian tampak bingung,Linda akhirnya memperkenalkan diri,”perkenalkan saya Linda,saya seorang psikater…” ujar Linda sembari mengulurkan tangan.           

Ian tetap diam,ekspresi wajahnya seakan acuh tak acuh.

          “baiklah,saya akan terus terang saja,atas kedatangan saya kemari…”Linda mulai tampak serius.”saya tahu kamu memiliki masa lalu yang sangat berat dalam hidupmu,jika kamu ijinkan sebagai seorang psikater,saya siap membantumu…”mohon Linda.Ian tampak geram,ia mengubah tempat duduknya,”apa yang kau tahu tentang hidupku dan apa pedulimu…? Jawab Ian.Linda tampak terkejut dengan perkataan Ian,ia tak menyangka jawaban Ian akan seperti itu.
           “dengar,kau tak seharusnya larut dalam kesedihan itu terus-menerus,kau harus sadar dengan seperti ini,kau tak akan mendapatkan apa-apa dan juga tak akan merubah apa pun yang tlah terjadi dalam hidupmu…” jelas Linda.Ian mulai tampak marah,dan ia berdiri tepat di depan Linda.”jika kau sudah menemukan buku yang kau cari,silahkan pergi,aku masih harus melayani pembeli yang lain,aku mohon…”Ian mengalihkan pembicaraan,sambil menunjuk pintu keluar,Linda merasa ini bukan waktu yang tepat untuk melanjutkan pembicaraan,dia memutuskan untuk pergi,lalu dia mengeluarkan sebuah kartu nama “ini kartu namaku,disana ada nomer telfon dan alamat kantorku,berkunjuglah kapan-kapan,aku siap membantumu…” Linda meninggalkan kartu namanya,seraya bergegas meninggalkan toko buku Ian.  

Bab 6



          Setelah kejadian itu,Linda semakin menguatkan keinginanya untuk membantu Ian,ia yakin suatu saat ia dapat membuat Ian melupakan peristiwa yang telah dialaminya,tapi setelah kejadian di toko buku “biroe”waktu itu.Ian menghilang,Linda tlah beberapa kali mengunjungi toko buku Ian,namun toko bukunya selalu tutup,sudah seminggu lebih toko itu tutup,Linda merasa aneh,kemana perginya Ian?

           Linda mulai sibuk mencari Ian,ia merasa sesuatu pasti sedang terjadi pada Ian,ia menanyakan perihal keberadaan Ian pada Alan teman Ian,Alan mengatakan Ia tak tahu dimana Ian berada,Alan mengatakan ian adalah sosok penyendiri,jika hatinya sedang bergejolak ia akan mencari sesuatu tempat yang dianggapnya mampu menenangkan jiwanya,Linda semakin penasaran dengan keterangan Alan,hampir diseluruh penjuru kota Linda mencari Ian,Linda merasa bersalah pada Ian atas kejadian ditoko buku itu,Linda merasa putus asa,akhirnya Linda memutuskan untuk pulang,saat ia melintasi jalan pesisir pantai,ia melihat sesosok pria yang seperti di carinya,pria itu tampak sedang menikmati suasana sore,Linda pun bergegas mendekatinya,tepat di samping dirinya,wajah sendu memejamkan mata,seakaan letih menghadapi perihnya hidup,pria itu menikmati panorama alam dari sang pencipta,hanya itu yang bisa ia nikmati dalam hidupnya,Linda seakaan tak kuasa melihat pemandangan di dekatnya,dadanya terasa sesak,bagaimana pria ini sanggup bertahan.

          “apakah keindahan alam inilah yang mampu membuat mu bertahan…” ujar Linda membangunkan ian,ian membuka kedua matanya dan terkejut,saat ia tahu itu Linda,ian bergegas meninggalkanya”tunggu jangan pergi…!” teriak Linda.”aku tulus ingin membantumu,aku tahu apa yang kau rasakan,memang sangat pedih saat kita kehilangan seorang ibu yang sangat kita cintai serta kebahagian bersama kedua orang tua,tapi tidak seperti ini seharusnya…! Pekik Linda.
Perkatan Linda membuat Ian berhenti mengayunkan langkahnya,Ian berbalik menuju ke tempat Linda,wajahnya tampak sangat marah sekali “dengar,kau tak tahu apa yang kurasakan dan apa yang ku alami,lebih baik kau urus saja kehidupanmu…! Jawab Ian.
          “mungkin jika ibumu masih hidup,dia tak kan sanggup melihatmu seperti ini,dia pasti sangat sedih sekali…” pekik Linda lagi.suasana alam yang begitu indah saat itu berubah “kenapa denganmu,kita tidak saling mengenal,apa yang kau inginkan dariku…? Tanya Ian.
          “aku ingin membantumu melupakan masa lalumu…” jawab Linda.

Tiba-tiba saja terjadi sesuatu pada diri Ian,ia merasa kepalanya sangat sakit sekali,kenangan masa kecilnya terbayang kembali,ibunya,ayahnya,kebahagian,rumah sakit jiwa,keluarga besarnya,semua jadi Satu dalam otaknya,jiwanya pun terguncang,sakit kepala yang ia rasakan,seakaan menjadi-jadi ia merasa bumi berputar,akhirnya ia tak kuat menahanya,ia pun pingsan.
BERSAMBUNG...
Posting cerpen by: andra itawwa
backhome> 
Bacaan cerpen Lainnya :
Surat Dalam Hujan
STatus Hari Ini
Menunggu Pelangi
Dont Have Loved With FuLL Heart

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress,Blogger...

sponsor*